Rabu, 04 Agustus 2010

Sederhana Saja!


“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu…

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada…”
— Sapardi Djoko Damono —

Mendengar bait-bait syair di atas, seakan hati kita dihujami ribuan tetes kesejukan. Ya, sederhana bukan? Hanya untuk mendapatkan kesejukan hati, cukup dengan sederet kata atau sepenggal kalimat. Tak usah dengan yang usaha yang beribet. Kadang, kita menganggap, untuk mengelola kehidupan rumah tangga ini butuh ekstra tenaga, ekstra pikiran. Bahkan, untuk menghadirkan romantisme dalam keluarga juga butuh sesuatu yang mahal.

Kenapa Sederhana?
Lantas, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa hanya dengan sederhana? Bukankah banyak masalah yang silih berganti dalam mengarungi bahtera rumah tangga? Tidak sederhana untuk mengurai benang kusut masalah dalam rumah tangga. Butuh ini dan itu.

Ya, dengan sederhana, ketulusan itu hadir menyeruak dari lubuk hati kita paling dalam. Dengan sederhana ada hati yang saling bertemu tanpa dinding ego yang menjulang tinggi selama ini.

Hidup ini akan terasa sederhana jika kita menghadirkan kesederhanaan dalam hidup kita, tak usah kita ngotot dengan idealisme kita yang melangit.
Cukup sederhana saja untuk mengelola riak dan badai yang muncul dalam rumah tangga kita yang sederhana.

Pertama, mau mendengar. Ya, dua manusia yang punya latar belakang yang berberda, budaya yang tak sama, harus bertemu dalam ruang tanpa sekat. Jika kita tidak pandai mengelola, akan ada dua budaya yang akan saling membentur. Mestinya, dua insan yang telah berjanji untuk hidup bersama tersebut mau mendengar, tidak hanya mau bicara saja. Jika yang satu berbicara, maka yang lainnya mau mendengar. Itulah selama ini yang saya lakukan, meskipun tubuh ini terhuyung mau rebah, setelah penat seharian dengan aktifitas mencari sesuap nasi. Aku pasti akan mendengar celoteh dan keluh kesah istri dengan sabar. Dengan mendengar, kita akan tahu apa isi hati pasangan kita, sikapnya terhadap sebuah masalah. Dengan mau mendengar, lantas akan muncul sebuah diskusi yang hangat antara kedua belah pihak. Tanpa ada yang merasa paling butuh sendiri untuk berbicara.

Kedua, memberikan perhatian yang sederhana. Kadang kita berpikir butuh sesuatu yang sepesial untuk memberikan perhatian kepada pasangan kita. Padahal, cukup dengan memberikan es teh (jika dia gemar minum es teh) ketika kita pulang ke rumah. Maka, pasangan kita akan merasa diperhatikan tiap hari oleh pasangan kita. Mudah bukan? Tak perlu mengajak pasangan kita ke bulan, karena memang kita tidak mampu.
Subhanallah, ternyata dengan manajemen sederhana. Yakni, dengan mau mendengar dan memberikan perhatian yang sederhana. Maka, rumah tangga kita akan bertabur kehangatan, bukannya bertabur ranjau yang sering meledak sewaktu-waktu karena kita salah injak. Begitu pun untuk mencintainya, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…

1 komentar: