Senin, 21 November 2016

Pertarungan Lurah (Joglosemar, 20 November 2016)




Aries Adenata*

Parman tersenyum sumringah. Tampak gurat kegembiraan dalam wajahnya. Ia membetulkan kerah bajunya, lantas ia turun dari taxi. Langkahnya begitu mantap, dadanya agak membusung. Ia menatap tajam orang-orang yang berjajar di depan  rumahnya yang menyambut kedatangannya, ia naikan kopernya lima belas centi lebih atas. Enam tahun sudah aku merantau ke Malaysia, kini aku datang kampungku!
***
“Sebentar lagi akan ada pilihan lurah lho Man, kamu tidak tertarik untuk ikut nyalon lurah?” Tanya Wardiyo dengan nada membujuk.
“Aku tidak tertarik Yo, aku mau buka usaha saja” Jawab Parman yang hari-hari ini jadi pembicaraan orang sekampung karena pulang dari Malasyia.
“Bapakmu dulu kan lurah, kamu masih punya trah lurah, saya yakin kamu bakal menang Man” desak Wardiyo yang berharap Parman mau maju sebagai calon lurah.
Suara jangkrik yang bersautan menambah suasana malam semakin hidup. Hawa dingin yang menyergah membuat orang-orang yang lagi nongkrong di HIK menarik sarung mereka sekedar untuk menutup kulit mereka agar tidak terasa dingin. Kepulan asap rokok yang berbaur dengan kepulan kopi menjadi aroma tersendiri.
“Saya siap jadi tim sukses kamu lho, Man!” Sahut Katimin sembari menyeruput kopi jahe yang mulai dingin.
“Ah, aku ndak yakin masih dikenal di kampung ini, aku sudah meninggalkan kampung ini enam tahunan” Parman mulai ragu.
“Aku ndak mikir jadi lurah, aku pengin usaha wae [1]” Lanjut Parman yang berusaha tidak tergoda dengan bujuk orang-orang kampung yang lagi menikmati hidup di HIK tengah kampung mereka.
“Beres Man, aku siap jadi jurkammu. Aku yakin trah lurah dalam garis kehidupanmu masih dikenal warga kampung ini. Aku yakin kamu pasti menang” Sahut Sariman dengan intonasi yang menggebu.
“Heleh…isoh wae tho kowe[2] Man!” Timpal Parman.
“Udah malem, aku muleh disik yo[3]. Besok nongkrong di HIK[4] lagi yo, aku kangen HIK, udah enam tahun nggak ngrasin sego kucing sama wedang jahe gepuk” Ucap Parman yang berusaha mengelak dari bujuk rayu orang-orang yang masih nongkrong di HIK.
“Pokoknya, kalau kamu maju jadi calon lurah, kami siap membantu memenangkamu, Man!” Teriak Wardiyo yang sejak tadi bernafsu mendorong Parman untuk maju menjadi calon lurah.
***
“Kapan kamu mau nikah tho Man?” Tanya wanita yang rambutnya sudah beruban semua.
Nggih[5], rencana saya tahun ini Buk” Ucap Parman sambil menunduk. Parman masih malu-malu.
“Yang bener Man?”
“Siapa gadis yang beruntung mendapatkan anak lanangku iki[6]?” Tanya wanita beruban itu dengan gembira. Akhirnya, ia mendapatkan kabar yang lama sudah ditunggunya.
“Lastri Bu. Anak Pak Wahid!” Jawab Parman lirih. Malu bercampur suka.
“Yang bener Man?“
Nggih Bu[7]” Jawab Parman dengan mantap.
Wanita beruban itu mencoba memperbaiki posisi duduknya. Kemudian melangkah mendekati Parman yang tampak sedikit canggung untuk membicarakan pernikahan. “Man, Ibuk senang sekali kamu sudah ketemu calon jodohmu. Bener Man, Ibuk seneng sekali. Tapi…” Suara ibu agak berat. Seperti menahan sesuatu.
“Tapi apa bu? Apa Ibuk tidak suka dengan Lastri” Tanya Parman dengan wajah sedikit cemas.
“Bukan…bukan…Ibuk tidak masalah kamu mau nikah dengan siapa. Tapi, kondisi keuangan ibu belum memungkinan dalam waktu dekat menikahkan kamu” Jawab wanita beruban itu dengan terburu-buru takut anaknya salah menangkap maksud perkataannya.
“Oh gitu tho Buk. Ndak usah kuwatir soal biaya bu. Aku punya tabungan hasil kerja di Malaysia, insya Allah cukup, mungkin masih sisa. Nanti sisanya buat buka usaha disini Buk” Jawab Parman lega, mendengar jawaban Ibunya yang tidak mempersoalkan hubungannya dengan Lastri.
“Saya ndak mau merepotkan kamu, Nak”
Buru-buru Parman menyela ucapan Ibunya “Ndak ngrepotkan kok Buk, memang rencana saya, uang tabungan itu untuk persiapan nikah dan buka usaha sepulang aku dari Malaysia.
“Yowis kalau begitu”
***
Suasana kampung semakin riuh dengan pembicaraan siapa kandidat yang bakal maju dalam pertarungan memperebutkan lurah di kampung itu. Para penduduk mencoba menebak-nebak, siapa yang mau maju. Desas-desus yang muncul Pak Lurah yang lama sudah tidak bisa maju lagi karena sudah menjabat dua kali periode. Saling tebak-menebak pun semakin santer, karena belum ada seorang pun yang mendeklarasikan maju sebagai calon lurah di kampung itu. Masih sulit diterka, jika saja lurah lama masih boleh, mungkin warga kampung itu akan menebak salah satu kandidat yang mau berlaga adalah lurah incumbent. Di warung sayur ibu-ibupun tak kalah seru membicarakan calon lurah. Apalagi soal siapa calon ibu lurahnya. Sedangkan kaum adam lebih heboh lagi membicarakannya, bahkan menjurus perjudian. Mereka menyiapkan taruhan jika sudah ada calon lurah, berharap jago yang dipilihnya menang.
“Parman, kamu jadi maju bukan?” Kami siap membantumu seratus persen. Siang-malam, kami akan bekerja untuk memenangkanmu. Ucap Wardiyo dengan tekanan suara yang meyakinkan.
Parman diam sejenak. Hatinya mulai surut, pendiriannya mulai kendor. Ia mulai menimbang kesempatan ini. Jika ia jadi lurah, ia tidak usah buka usaha lagi, karena dengan jabatan lurah, ia akan mendapatkan penghasilan. Juga akan menambah tingkat gensinya di mata calon mertuanya. Lebih mudah lagi ia mendekati calon mertuanya, pikir Parman.
“Siapa saja calon yang sudah muncul Yo” Tanya Parman yang mulai masuk pembicaraan seputar pemilihan lurah.
Wardiyo menangkap isyarat, bahwa Parman mulai tertarik dengan pemilihan lurah. Ini adalah kesempatan berharga bagi dia untuk membuat Parman yakin akan peluangnya menjadi lurah.
“Ah, jangan berpikir siapa lawan kamu Man. Berpikirlah dengan segala keunggulannu. Lihat saja, kamu adalah mantan anak lurah, pasti orang kampung akan segan, warga juga akan menilai, pasti kamu akan sukses seperti ayahmu, dulu ayahmu sukses memimpin kampung ini, tidak seperti lurah yang sekarang” Wardiyo mencoba memasukan keyakinan-keyakinan di dalam benak Parman.
“Tak hanya itu Man, kamu juga punya modal besar. Kamu baru pulang dari Malaysia bukan? Pasti tabunganmu banyak sekali. Sudah dua modal yang kamu miliki, trah lurah dan modal logistik. Pasti kamu menang Man!” Ujar Wardiyo yang tampak antusias menjabarkan peluang dan kemungkinan bahwa Parman bakal menang jika bertarung dalam perebutan kursi lurah di kampung itu.
Parman terdiam mendengar jawaban Wardiyo. Bagi Wardiyo ini sebuah kemanangan langkah selanjutnya.
“Sudahlah, saya yang bakal jadi ketua tim sukses kamu, Man. Kamu tinggal menyiapkan logistiknya saja. Kamu tahu beres aja. Kamu bakal duduk manis jadi lurah nantinya, Man” Wardiyo meyakinkan kembali Parman.
***
Pemilihan lurah makin dekat, para calon lurah bermunculan, sekurangnya ada empat calon lurah yang kini sudah muncul di permukaan. Mereka mengerahkan masa masing-masing untuk mencari dukungan warga kampung. Berbagai cara mereka lakukan, mulai dengan mengadakan rapat koordinasi pemenangan pemilu di rumah makan, mengadakan wayangan, memberikan bantuan sosial ke masjid, perbaikan infrastruktur kampung dan sebagainya. Tak kalah ketinggalan, Parman kini juga mulai bertarung strategi untuk memperebutkan kursi lurah, sesuai arahan Wardiyo. Parman rutin melakukan koordinasi di rumah makan besar, tak hanya itu, sepulang dari rapat koordiaasi mereka diberi uang transportasi yang lumayan. Parman juga membuat kaos untuk para team sukses dan kader-kadernya. Tiap malam rumah Parman kini ramai, tak tanggung-tanggung, makanan dan rokok disediakan non stop[8] oleh Parman. Hari semakin dekat Parman semakin yakin akan kemenangannya, logistik yang ia keluarkan juga besar-besaran.
“Wes, yakin saja, kamu bakal menang Man” Ucap Wardiyo dengan penuh keyakinan
“Iya Man, warga kampung kita bakal memberikan suara ke kamu” Timpal Katimin dengan semangat.
“Para pesaingmu juga mulai kwatir, mereka melihat dukungan kepadamu semakin banyak, untuk itu, mereka menambah jumlah logistiknya, isi amplop ditambah, lebih besar dari kamu” Ujar Sariman setengah memberi keyakinan, namun setengahnya memancing agar Parman menambah jumlah isi amplop uang transportasi untuk rapat koordinasi.
“Oke, sudah nanggung, sekali basah, basah sekalian. Kita tambah isi amplopnya, pokoknya saya harus menang” Kini Parman mulai terasuki hawa obsesi kemenangan.
Mendengar jawaban dan semangat Parman, mereka bertiga, Wardiyo, Katimin, Sariman tersenyum, sambil saling memandang satu dengan yang lainnya. Pertanda kemakmuran bakal mampir di kantong mereka.
Hari pemungutan suara pun tiba, Parman datang ke balai desa dengan naik becak bersama rombongan pendukungnya. Mereka ingin mengatakan bahwa becak adalah simbol perjuangan wong cilik, jadi kalau memilih Parman, maka wong cilik akan diperjuangkan nasibnya oleh Parman.
Warga kampung berbondong-bondong menuju ke balai desa untuk memberikan suaranya. Pemungutan suara ditutup pukul satu siang. Para kandidat duduk di depan. Berjajar sesuai nomor urut dan gambar. Nomor satu gambar jagung, nomor dua gambar ketela, nomor ketiga gambar padi, nomor keempat gambar tebu. Parman mendapat gambar tebu. Ia yakin, tebunya bakal terasa manis akan kemenangan.
Jam di dinding balai desa menujukan pukul satu siang, pencoblosan selesai. Panitia istirahat sebentar. Setelah selesai istirahat, panitia kemudian melanjutkan perhitungan suara. Detik-detik inilah yang menegangkan. Semua calon lurah yang duduk di depan tampak tegang dan berkeringat.
Ada empat kotak suara. Kotak suara satu selesai dihitung, Parman kalah. Keringat dingin mengucur deras dari wajahnya. Kotak suara kedua dihitung, Parman menang. Tampak wajah Parman mulai membaik dan berangsur tenang. Kotak ketiga juga selesai dihitung, hasilnya Parman menang di kotak ketiga. Parman makin gembira, wajahnya mulai tampak sumringah. Calon yang lain mulai tampak loyo. Kotak keempat, yakni kotak terakhir mulai dihitung. Parman sudah yakin bakal menang, obsesi akan kemenangan makin menggebu. Perhitungan selesai, Parman kalah di kotak keempat. Keringat dingin deras mengucur dari wajah Parman. Panitia kemudian menjumlah total suara dari keempat kotak suara. Hasilnya, Parman kalah.
Tiba-tiba kepala Parman terasa berputar-putar, wajah Lastri seperti mengitari kepalanya, seakan merajuk untuk segera dinikahi. Usaha yang diimpikan juga nampak berbayang di depan matanya. Uang tabunganya kini sudah ludes. Parman jatuh pingsan.
***
Di belakang balaidesa, Wardiyo, Katimin, Sariman duduk bersila.
“Jan, asem tenan. Jagoku kalah” Ucap Katimin yang menjagokan Parman
“Huahaha…aku menang, nomer urut  dua menang, ketela menang…hahaha…” Ucap Wardiyo sambil mengambil uang dari Katimin dan Sariman yang kalah taruhan.


[1] aja
[2] Kamu bisa aja
[3] Saya pulang dulu ya
[4] Angkringan
[5] Iya
[6] Anak lelaki saya
[7] Iya Bu
[8] Tanpa henti

Senin, 21 Desember 2015

Tidak Mengucapkan Selamat Natal adalah Toleransi



  

 Photo: Indonesia.ucanews.com

Setiap bulan Desember tiba, kita selalu gaduh, teriak-teriak tentang toleransi. Kegaduhan yang sebenarnya dipelihara untuk sebuah kepentingan tersembunyi. Salah satu kegaduhan itu adalah masalah mengucapkan selamat natal. Berbagai tulisan diupayakan mengangkat konsep toleransi, arus utama berpihak pada pernyataan bahwa mengucapkan hari natal diperbolehkan bagi umat Islam.
Konsep toleransi yang dikembangkan sebagian orang di Indonesia adalah tentang peryataan selamat natal diperbolehkan bagi umat Islam yang sebenarnya adalah sebuah hegemoni konsep toleransi. Menurut  Gramsci hegemoni terhadap kehadiran kelompok dominan berlangsung dalam suatu proses yang damai, tanpa tindakan kekerasan. Media dapat menjadi sarana penting untuk menyebar kuasa wacana tersebut. Proses bagaimana wacana mengenai toleransi di media berlangsung dalam suatu proses yang kompleks. Meski masyarakat muslim tidak merasa dibodohi atau dimanipulasi oleh media.  
Bagi yang tidak membolehkan mengucapkan selamat natal, maka akan dilekatkan bahwa ia tidak bersikap toleransi. Menurut Gramsci, Fungsi lain hegemoni yakni,  menciptakan cara berpikir yang berasal dari wacana dominan, juga media yang berperan dalam penyebaran wacana dominan itu.  Hegemoni dipergunakan untuk menunjukkan adanya kelas dominan yang mengarahkan  tidak hanya mengatur masyarakat melalui pemaksaan kepemimpinan moral dan intelektual (Storey, 2003:172).
Toleransi itu adalah Toleransi terhadap konsep toleransi
Salah satu kekuatan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana tertentu yang dominan, yang dianggap benar, sementara wacana lain dianggap salah.  
Seharusnya kita bisa bertoleransi terhadap sikap dan pandangan terhadap toleransi. Karena setiap entitas punya definisi masing-masing tentang tolerensi, tentu tidak adil dan toleran jika kita memaksakan kepada kaum muslim untuk mengucapkan selamat natal, pun sebaliknya umat Islam juga tidak pernah memaksa kaum lainnya untuk meminta ucapan selamat hari raya idul fitri.
Harus ada upaya saling menghargai, bagi umat muslim, mengucapkan selamat natal adalah masalah aqidah, sama halnya jika umat lain diminta mengucap kalimat syahadat, maka tentu mereka tidak bisa melakukannya. Jadi, toleransi itu bukan berarti memaksakan cara berpikir atau pandangan bahwa yang tidak mengucapkan selamat natal itu tidak toleran.
Dunia itu tidak satu  
            Di berbagai belahan bumi ini, setiap entitas punya pandangan hidup, kearifan lokal masing-masing, barat adalah barat, timur adalah timur (meski istilah timur adalah usaha metimurkan oleh orang barat, karena orang timur tidak pernah mendefinisikan tentang timur).
            Selama ini kita terbiasa mengambil posisi melihat sesuatu dari sudut pandang kita sendiri terhadap suatu masalah, padahal sudut pandang kita dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan agama kita. Tentu, orang lain juga punya pandangan yang berbeda, karena mereka punya latar belakang yang berbeda pula.
            Mari bertoleransi dengan toleransi itu sendiri….

Senin, 19 Oktober 2015

Menulislah Bung!




                       
Bung, cobalah tengok kebelakang! Apa yang kau lihat? Sederet kisah yang tlah kau lalui bukan? Hanya sepitas lalu, yah, bahkan tak berbekas sama sekali, ia akan memendar seiring dengan ruang dan waktu yang tertelan oleh waktu itu sendiri. Bung, ingat! Jatah umur yang diberikan kita sudah tercatat di lauhul mahfudz. Tak kurang dan tak lebih. Ada riuh tanya yang bakal mengusik hati kau, tentu! Ia akan mengolok dan menggunjing dirimu. Buat apa waktu yang selama ini diberikan oleh sang Rahman?
Ingat bung! Sedetik waktu yang tlah kita lewati, tak bakal bisa kita undo layaknya toot dalam computer, yang bisa seenaknya kita undo jika kita melewati satu huruf saja. Tidak, ia tak bakal bisa kita undo meskipun ia hanya sedetik saja. Cukup miris bukan? Yah, jika kau sudah berkubang dengan tanah, dan umurmu hanya dijatah dengan 40, 50, atau 60 tahun, cukup sudah umur yang melekat di ragamu, ia lenyap bersama raga yang telah tertimbun dengan tanah. Dan, namamu juga berakhir sudah seiring dengan langkah kaki para peziarah yang meninggalkan kubur dengan seret-seret sendal yang mereka pijak.
Bung, namamu, jejak kehidupanmu dan amalmu terhenti sudah. Ya, berakhir sudah, persis layaknya sebuah film bioskop yang ditutup dengan kalimat `The end`. Benar bukan? Kau mau berkata apa? Pasti `YA` kan? Apakah kau ingin seperti manusia pada umumnya. Jika sudah datang malaikat pencabut nyawa, hilang sudah nama, jejak dan amal kita? Ustadz Antonio Syafii pernah berkata, umur manusia ada dua. Pertama adalah umur secara biologis, jika tubuh ini sudah mencium tanah tanpa henti diiring tangis dan doa, dalam waktu 30, 40, 50, 65 selesai sudah riwayat sebuah nama. Ia terhenti tanpa ada rekam jejak di generasi selanjutnya. Kedua adalah umur secara karya, bisa jadi raga yang telah terbujur diatas tanah dengan kurun waktu 39, 49, 59 itu dicabut dari sang Pemberi Nyawa. Namun, jika ia punya karya, maka ia akan hidup sepanjang masa, rekam jejak kehidupannya bakal dikenang bagi generasi selanjutnya, bahkan, jika karya itu bisa mendatangkan manfaat bagi banyak orang, bisa jadi ia akan menjadi anak sungai pahala yang akan terus mengalir kepada kita. Bukankah kita sering mendengungkan istilah nafsu dunia dengan pasif income bukan? Kenapa kita tidak berpikir dengan keinginan paling purna tuk punya pasif income kelak di akhirat nanti. Biarkan income pahala itu mengalir terus kepada kita meskipun raga ini sudah dimakan ratusan atau bahkan ribuan ulat tanah.
Bung! Lihat jam tanganmu. Sekarang jam berapa? Tanggal berapa? Bulan apa? Tahun berapa? ... sudah kau lakukan? Inalilahi...kau pasti terperanjat bukan! Teryata kau sudah memakan waktu dengan tanpa sadar melewatkan begitu saja bukan?
Bung! Jangan kau pejamkan mata, tatap matahari, sebentar lagi ia bakal menggelinding ditelan bumi. Nah, itulah kejadian tiap hari yang bakal kau temui, matahari terus akan berputar sampai dengan tiba masanya tuk tidak berputar.
Saatnya sekarang tuk memilih. Memilih tuk tidak memilih atau memilih dengan kesadaran purna. Ambil kertas atau sahut laptop yang ada disampingmu, biarkan jari ini menuturkan kisah kehidupanmu lewat tulisan. Dan, ia bakal mengabadikan jejak kehidupanmu. Kelak, anak cucu, karib, kerabat, umat manusia bakal menjumpaimu dengan artefak tulisanmu yang terserak dimana-mana, sepanjang masa. Kau pun bakal tercatat dalam sejarah, bahwa kau punya rekam jejak kehidupan yang bisa ditelusur dengan sebuah bukti, yakni sebuah tulisan.
Bung, apakah kau puas hanya sekadar menulis kisahmu? Kisahmu saja? Bergunakah? Apakah kau tak punya keinginan yang lebih bijak? Membuat sebuah maha karya tulisan yang mampu menggerakan umat manusia untuk berbuat kebaikan. Membuat manusia menitikan air mata, lantas taubat nasuha. Membuat manusia yang tersesat kembali ke jalan yang lurus dan terang benderang? Bung! Jika kau mau, kau sanggup tuk membuatnya. Bukankah Hasan Al Bana, Imam Al Ghozali, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki, Imam Syafi`i dan imam-imam lainnya juga manusia. Ia sepertimu, manusia yang diberikan waktu 24 jam dalam sehari, tak ada bedanya bukan? Kini, kau tak bisa mengelak dengan kata`Kesibukan`. Toh mereka yang mengeluarkan masterpiece karya juga punya jatah waktu yang sama bukan?
Kini, hamparan pilihan itu dihadapan kau, tinggal memilih, menulis tuk mengabadikan jejak kehidupan dan membuat pasif income di akhirat kelak, atau kau justru duduk termangu dengan tulisan ini, dan berkata, ”Benar ya tulisan ini! Kita harus membuat pasif income tuk akhirat kelak dengan sebuah tulisan” dan kau pun melipat tulisan di majalah ini, kemudian membuangnya ke tong sampah tanpa melakukan apa yang barusan kau ucap. Begitu?


[*] Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Solo Raya