Rabu, 06 Januari 2010

Negeri Ngeri






Aku mendengar ada sebuah Negeri yang indah. Konon Negeri itu melimpah ruah kekayaan alamnya, tanahnya subur dan orangnya ramah – ramah. Orang bilang tanah kita tanah surga tongkat dan batu jadi tanaman . Hingga penduduknya menyebutnya tanah surga. Pasti, betapa eloknya negeri itu. Membuat aku penasaran ingin singgah dan berkunjung di Negeri itu. Tapi ! dimanakah letak Negeri itu ? Aku hanya mendengar kemasyhuran keelokan alamnya dari mulut ke mulut. Banyak orang yang menceritakan kemasyhuran Negeri itu, namun banyak pula yang tidak tahu letaknya. Semakin hari Negeri itu semakin mahsyur namanya. Akupun bertambah penasaran. Kulangkahkan kedua kakiku tuk mencari negeri yang termahsyur itu. Aku terus melangkah tanpa pernah henti.
“Maaf, tahukah tuan Negeri yang termahsyur itu ?”tanyaku
“Oh ! Negeri yang kaya raya, subur dan ramah tamah orangnya itu ya !”jawab lelaki tua dengan semangatnya.
“Iya tuan. Dimana letaknya ?”
“Oh…tuan, aku tahu negeri itu !” Suara lelaki tua itu mantap.
“ Tapi…aku tidak tahu letaknya”lanjut lelaki tua itu
Kutinggalkan lelaki tua itu. Kupercepat langkahku. Derai angin kering menampar wajahku. Kepulan debu bertebaran di atas jalan. Awan menggumpal membentuk wajah dengan bibir menyor ke samping seolah sedang meledekku.
“Hai, kawan. Kau jangan mencibirku. Aku pasti bisa menemukan negeri itu !”teriakku, sambil kutengadahkan wajahku ke atas.
Wajah awan. Itu berubah oleh tiupan angin. Hingga membuat ekpresi wajahnya berubah baru. Lidah awan itu menjulur panjang seolah mengejek week…..
Pasti aku akan menemukan Negeri itu. Keyakinanku makin bertambah besar. Kini aku tidak hanya melangkah, Aku berlari dan terus berlari. Gang demi gang kutelusuri, desa ke desa, kota ke kota, lintas daerah, lintas provinsi bahkan lintas Negara. Kakiku tak mau berhenti. Aku terus berlari mencari Negeri itu.
“Uuh… sudah sampai dimana aku ?” lirihku.
Kupandangi sekitarku. Aneh ! Sesuatu yang selama ini belum kulihat dalam kehidupanku. Dimanakah aku sekarang ?
Orang–orang itu saling berbicara tapi tak mengeluarkan kata, mereka menegur satu dengan yang lainnya namun tak besuara. Apakah ada yang tidak beres denganku ? Ah…tidak mungkin, aku masih bisa mendengar derap kakiku sendiri.
Aku terus berlari.
“Maaf. Sudikah kalian memberi tahukan dimana negeri yang termahsyur itu ?”tanyaku kepada orang – orang yang sedang bergerombol.
Mereka saling pandang kemudian mereka menatapku. Salah satu diantara mereka berjalan mendekatiku orang itu seperti berkata sesuatu tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Aku yakin orang itu itu mengatakan sesuatu. Ya, aku dapat menangkapnya dari sorotan matanya.
“Tuan. Dimanakah Negeri itu ?”
Mereka semua saling pandang kemudian saling berbicara layaknya berbicara semestinya, ekpresi wajahnya, gerak tanganya, kedipan matanya, gerak tubuhnya. Tak ubahnya seperti umumnya.
“Dimana…..? Ah sudahlah, percuma saja jika aku tak paham yang kalian omongkan !” kuhengkangkan kakiku
Aku terus berlari.
Semakin aku berlari, keanehan–keanehan makin sering kujumpai, keanehan itu menggelitikku dan mengusikku. Orang–orang disini menangis tapi tak mengeluarkan air mata setitikpun. Dimanakah aku ini ?. Apakah ini Negeri yang termahsyur itu ? Ah…! Tidak mungkin, Negeri yang kucari itu adalah Negeri yang subur dan penduduknya ramah – ramah. Selama aku tiba di sini aku belum menemukan ciri – ciri Negeri itu.
Aku terus berlari dan terus berlari
Sejak saya berada di daerah ini, saya merasa tidak menjumpai penghujung daerah ini. Aneh…! Lampu-lampu di jalanan menyala di siang bolong. Sinarnya terang bahkan seterang ketika berada di kegelapan. Penasaran makin mendesak-desaku, sebenarnya apa yang terjadi? apakah ini ilusi atau fantasi atau ini adalah sebuah kenyataan yang tak masuk akal? Ataukah saya sedang masuk dalam dunia ghoib ?. Memang dulu saya pernah di ceritakan oleh kakek, bahwa dunia ini di tempati oleh beberapa makhluk, ada manusia, ada jin, dan juga setan yang suka menggoda manusia. Tapi… tidak mungkin ! semuanya normal-normal saja seperti apa adanya.
Aku terus berlari dan terus berlari tanpa kenal henti, aku tak tahu kapan berhenti atau kapan istirahat, yang kutahu hanya berlari mencari Negeri tersebut. Tak kusangka akhirnya aku menginjakkan kakiku di penghujung wilayah. Indah betul perbatasan ini..! Langit begitu cerah yang berarak awan putih dan udara yang sangat sejuk. Kulangkahkan kakiku dalam beberapa langkah. Tiba-tiba gelap menyelimuti sekelilingku. Aku melangkah mundur kembali, terang dan udara sejuk kembali menghampiriku. Apakah aku sudah masuk ke negeri itu ? Tapi, mengapa gelap sekali. Ya…mungkin Negeri yang termahsyur itu gelap keadaanya, pikirku. Akhirnya kutekadkan untuk melangkah maju untuk menemukan Negeri itu. Mataku tak bisa melihat apapun, aku terus melangkah tak peduli dengan kegelapan. Ada sesuatu yang merasuk kedalam relung hatiku. Aku tak mampu menggambarkan apa yang telah masuk dalam diriku. Tiba-tiba aku mampu melihat benda-benda di sekelilingku dengan hati kecilku. Akupun mampu melihat orang-orang yang sedang berseliweran di hadapanku, tapi bukan dengan mataku, dengan mata batinku.
“Maaf, tahukah tuan Negeri yang termahsyur itu?”
“Kenapa anda bertanya tentang Negeri itu?”Jawab ia sembari ia menanya balik.
“Aku ingin pergi dan melihat Negeri yang termahsyur itu tuan !”
“Kenapa anda ingin pergi ke Negeri itu ?”ia bertanya kembali
“Ya…karena penasaran kemasyuran Negeri itu!”jawabku yang mulai tidak sabar.
“Kenapa penasaran dengan Negeri itu?”Ia terus bertanya kepadaku.
“Ya, pokoknya saya ingin pergi ke Negeri itu. Sebenarnya tuan tahu nggak letak Negeri itu ?”tanyaku dengan kesal.
“Maaf tuan, saya juga mendengar kemashyuran Negeri itu. Saya juga penasaran dengan Negeri itu…”
Belum sempat ia berbicara panjang-panjang, aku memotong kata-katanya.
“Tahukah tuan letaknya?”
“Maaf tuan, silahkan tanya pada yang lain saja !”
“Tapi…tuan tahukah letaknya…?”
“Silahkan Tanya orang lain saja !” ia kemudian menyelonong pergi.
Kalau memang nggak tahu bilang dari tadi…gerutu dalam hatiku. Aku melangkah lagi dengan panduan batinku, seolah aku berjalan seperti sediakalanya ketika di kedaan yang terang benderang dan dengan mata telanjang. Kuhampiri seseorang yang sedang duduk santai diatas lincak depan rumah.
“Maaf tuan, numpang tanya. Tahukah tuan Negeri yang termahsyur itu?”
“Kenapa anda bertanya tentang Negeri itu?” Tanya dia
“Aku penasaran dengan kemashyuranya !”
“Kenapa penasaran ?”
“Maaf,tahukah tuan Negeri yang termahsyur itu ?”
“Saya juga penasaran dengan Negeri itu. Tapi, kalau mau tanya tentang Negeri itu silahkan tanya ke orang lain !”
“Kenapa harus orang lain? Apakah tuan tidak tahu Negri itu ?”Desakku.
Ia nyelonong pergi begitu saja tanpa mempedulikanku. Begitu aneh penduduk daerah sini, ketika ditanya tentang Negeri tersebut mereka bertanya balik dengan antusias namun ketika ditanya tentang Negeri itu mereka meminta untuk bertanya ke orang lain. Apakah penduduk sini punya masalah dengan Negeri itu ? ah… mungkin itu prasangkaku saja.
Aku melangkah maju tanpa memperdulikan para penduduk sini yang memperhatikanku dengan rasa aneh. Akupun tak mau lagi bertanya pada penduduk sini lagi, aku yakin mereka sama saja. Selang beberapa menit aku melangkah, Suasana kembali menjadi terang benderang, Sesuatu keluar dari tubuhku. Mataku mulai berfungsi normal. Aku mampu berjalan dengan panduan mataku lagi.
Aku terus melangkah tak kenal henti. Aku yakin akan menemukan Negeri itu. Keyakinanku tak akan goyah oleh apapun. Walau berjuta orang sinis kepadaku. walau ribuan kilo mil harus aku tempuh. Walau waktuku habis untuk mencari Negeri itu.
Bila kau telah membaca tulisan ini ! Dan suatu hari kau menemui sesorang yang kebingungan dan ia bertanya kepadamu, Tolong beritahu Negeri itu ! Mungkin sesorang yang kau temui di jalan itu adalah aku.(aries adenata)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar