Tampilkan postingan dengan label literacy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literacy. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2016

Pertarungan Lurah (Joglosemar, 20 November 2016)




Aries Adenata*

Parman tersenyum sumringah. Tampak gurat kegembiraan dalam wajahnya. Ia membetulkan kerah bajunya, lantas ia turun dari taxi. Langkahnya begitu mantap, dadanya agak membusung. Ia menatap tajam orang-orang yang berjajar di depan  rumahnya yang menyambut kedatangannya, ia naikan kopernya lima belas centi lebih atas. Enam tahun sudah aku merantau ke Malaysia, kini aku datang kampungku!
***
“Sebentar lagi akan ada pilihan lurah lho Man, kamu tidak tertarik untuk ikut nyalon lurah?” Tanya Wardiyo dengan nada membujuk.
“Aku tidak tertarik Yo, aku mau buka usaha saja” Jawab Parman yang hari-hari ini jadi pembicaraan orang sekampung karena pulang dari Malasyia.
“Bapakmu dulu kan lurah, kamu masih punya trah lurah, saya yakin kamu bakal menang Man” desak Wardiyo yang berharap Parman mau maju sebagai calon lurah.
Suara jangkrik yang bersautan menambah suasana malam semakin hidup. Hawa dingin yang menyergah membuat orang-orang yang lagi nongkrong di HIK menarik sarung mereka sekedar untuk menutup kulit mereka agar tidak terasa dingin. Kepulan asap rokok yang berbaur dengan kepulan kopi menjadi aroma tersendiri.
“Saya siap jadi tim sukses kamu lho, Man!” Sahut Katimin sembari menyeruput kopi jahe yang mulai dingin.
“Ah, aku ndak yakin masih dikenal di kampung ini, aku sudah meninggalkan kampung ini enam tahunan” Parman mulai ragu.
“Aku ndak mikir jadi lurah, aku pengin usaha wae [1]” Lanjut Parman yang berusaha tidak tergoda dengan bujuk orang-orang kampung yang lagi menikmati hidup di HIK tengah kampung mereka.
“Beres Man, aku siap jadi jurkammu. Aku yakin trah lurah dalam garis kehidupanmu masih dikenal warga kampung ini. Aku yakin kamu pasti menang” Sahut Sariman dengan intonasi yang menggebu.
“Heleh…isoh wae tho kowe[2] Man!” Timpal Parman.
“Udah malem, aku muleh disik yo[3]. Besok nongkrong di HIK[4] lagi yo, aku kangen HIK, udah enam tahun nggak ngrasin sego kucing sama wedang jahe gepuk” Ucap Parman yang berusaha mengelak dari bujuk rayu orang-orang yang masih nongkrong di HIK.
“Pokoknya, kalau kamu maju jadi calon lurah, kami siap membantu memenangkamu, Man!” Teriak Wardiyo yang sejak tadi bernafsu mendorong Parman untuk maju menjadi calon lurah.
***
“Kapan kamu mau nikah tho Man?” Tanya wanita yang rambutnya sudah beruban semua.
“Nggih[5], rencana saya tahun ini Buk” Ucap Parman sambil menunduk. Parman masih malu-malu.
“Yang bener Man?”
“Siapa gadis yang beruntung mendapatkan anak lanangku iki[6]?” Tanya wanita beruban itu dengan gembira. Akhirnya, ia mendapatkan kabar yang lama sudah ditunggunya.
“Lastri Bu. Anak Pak Wahid!” Jawab Parman lirih. Malu bercampur suka.
“Yang bener Man?“
“Nggih Bu[7]” Jawab Parman dengan mantap.
Wanita beruban itu mencoba memperbaiki posisi duduknya. Kemudian melangkah mendekati Parman yang tampak sedikit canggung untuk membicarakan pernikahan. “Man, Ibuk senang sekali kamu sudah ketemu calon jodohmu. Bener Man, Ibuk seneng sekali. Tapi…” Suara ibu agak berat. Seperti menahan sesuatu.
“Tapi apa bu? Apa Ibuk tidak suka dengan Lastri” Tanya Parman dengan wajah sedikit cemas.
“Bukan…bukan…Ibuk tidak masalah kamu mau nikah dengan siapa. Tapi, kondisi keuangan ibu belum memungkinan dalam waktu dekat menikahkan kamu” Jawab wanita beruban itu dengan terburu-buru takut anaknya salah menangkap maksud perkataannya.
“Oh gitu tho Buk. Ndak usah kuwatir soal biaya bu. Aku punya tabungan hasil kerja di Malaysia, insya Allah cukup, mungkin masih sisa. Nanti sisanya buat buka usaha disini Buk” Jawab Parman lega, mendengar jawaban Ibunya yang tidak mempersoalkan hubungannya dengan Lastri.
“Saya ndak mau merepotkan kamu, Nak”
Buru-buru Parman menyela ucapan Ibunya “Ndak ngrepotkan kok Buk, memang rencana saya, uang tabungan itu untuk persiapan nikah dan buka usaha sepulang aku dari Malaysia.
“Yowis kalau begitu”
***
Suasana kampung semakin riuh dengan pembicaraan siapa kandidat yang bakal maju dalam pertarungan memperebutkan lurah di kampung itu. Para penduduk mencoba menebak-nebak, siapa yang mau maju. Desas-desus yang muncul Pak Lurah yang lama sudah tidak bisa maju lagi karena sudah menjabat dua kali periode. Saling tebak-menebak pun semakin santer, karena belum ada seorang pun yang mendeklarasikan maju sebagai calon lurah di kampung itu. Masih sulit diterka, jika saja lurah lama masih boleh, mungkin warga kampung itu akan menebak salah satu kandidat yang mau berlaga adalah lurah incumbent. Di warung sayur ibu-ibupun tak kalah seru membicarakan calon lurah. Apalagi soal siapa calon ibu lurahnya. Sedangkan kaum adam lebih heboh lagi membicarakannya, bahkan menjurus perjudian. Mereka menyiapkan taruhan jika sudah ada calon lurah, berharap jago yang dipilihnya menang.
“Parman, kamu jadi maju bukan?” Kami siap membantumu seratus persen. Siang-malam, kami akan bekerja untuk memenangkanmu. Ucap Wardiyo dengan tekanan suara yang meyakinkan.
Parman diam sejenak. Hatinya mulai surut, pendiriannya mulai kendor. Ia mulai menimbang kesempatan ini. Jika ia jadi lurah, ia tidak usah buka usaha lagi, karena dengan jabatan lurah, ia akan mendapatkan penghasilan. Juga akan menambah tingkat gensinya di mata calon mertuanya. Lebih mudah lagi ia mendekati calon mertuanya, pikir Parman.
“Siapa saja calon yang sudah muncul Yo” Tanya Parman yang mulai masuk pembicaraan seputar pemilihan lurah.
Wardiyo menangkap isyarat, bahwa Parman mulai tertarik dengan pemilihan lurah. Ini adalah kesempatan berharga bagi dia untuk membuat Parman yakin akan peluangnya menjadi lurah.
“Ah, jangan berpikir siapa lawan kamu Man. Berpikirlah dengan segala keunggulannu. Lihat saja, kamu adalah mantan anak lurah, pasti orang kampung akan segan, warga juga akan menilai, pasti kamu akan sukses seperti ayahmu, dulu ayahmu sukses memimpin kampung ini, tidak seperti lurah yang sekarang” Wardiyo mencoba memasukan keyakinan-keyakinan di dalam benak Parman.
“Tak hanya itu Man, kamu juga punya modal besar. Kamu baru pulang dari Malaysia bukan? Pasti tabunganmu banyak sekali. Sudah dua modal yang kamu miliki, trah lurah dan modal logistik. Pasti kamu menang Man!” Ujar Wardiyo yang tampak antusias menjabarkan peluang dan kemungkinan bahwa Parman bakal menang jika bertarung dalam perebutan kursi lurah di kampung itu.
Parman terdiam mendengar jawaban Wardiyo. Bagi Wardiyo ini sebuah kemanangan langkah selanjutnya.
“Sudahlah, saya yang bakal jadi ketua tim sukses kamu, Man. Kamu tinggal menyiapkan logistiknya saja. Kamu tahu beres aja. Kamu bakal duduk manis jadi lurah nantinya, Man” Wardiyo meyakinkan kembali Parman.
***
Pemilihan lurah makin dekat, para calon lurah bermunculan, sekurangnya ada empat calon lurah yang kini sudah muncul di permukaan. Mereka mengerahkan masa masing-masing untuk mencari dukungan warga kampung. Berbagai cara mereka lakukan, mulai dengan mengadakan rapat koordinasi pemenangan pemilu di rumah makan, mengadakan wayangan, memberikan bantuan sosial ke masjid, perbaikan infrastruktur kampung dan sebagainya. Tak kalah ketinggalan, Parman kini juga mulai bertarung strategi untuk memperebutkan kursi lurah, sesuai arahan Wardiyo. Parman rutin melakukan koordinasi di rumah makan besar, tak hanya itu, sepulang dari rapat koordiaasi mereka diberi uang transportasi yang lumayan. Parman juga membuat kaos untuk para team sukses dan kader-kadernya. Tiap malam rumah Parman kini ramai, tak tanggung-tanggung, makanan dan rokok disediakan non stop[8] oleh Parman. Hari semakin dekat Parman semakin yakin akan kemenangannya, logistik yang ia keluarkan juga besar-besaran.
“Wes, yakin saja, kamu bakal menang Man” Ucap Wardiyo dengan penuh keyakinan
“Iya Man, warga kampung kita bakal memberikan suara ke kamu” Timpal Katimin dengan semangat.
“Para pesaingmu juga mulai kwatir, mereka melihat dukungan kepadamu semakin banyak, untuk itu, mereka menambah jumlah logistiknya, isi amplop ditambah, lebih besar dari kamu” Ujar Sariman setengah memberi keyakinan, namun setengahnya memancing agar Parman menambah jumlah isi amplop uang transportasi untuk rapat koordinasi.
“Oke, sudah nanggung, sekali basah, basah sekalian. Kita tambah isi amplopnya, pokoknya saya harus menang” Kini Parman mulai terasuki hawa obsesi kemenangan.
Mendengar jawaban dan semangat Parman, mereka bertiga, Wardiyo, Katimin, Sariman tersenyum, sambil saling memandang satu dengan yang lainnya. Pertanda kemakmuran bakal mampir di kantong mereka.
Hari pemungutan suara pun tiba, Parman datang ke balai desa dengan naik becak bersama rombongan pendukungnya. Mereka ingin mengatakan bahwa becak adalah simbol perjuangan wong cilik, jadi kalau memilih Parman, maka wong cilik akan diperjuangkan nasibnya oleh Parman.
Warga kampung berbondong-bondong menuju ke balai desa untuk memberikan suaranya. Pemungutan suara ditutup pukul satu siang. Para kandidat duduk di depan. Berjajar sesuai nomor urut dan gambar. Nomor satu gambar jagung, nomor dua gambar ketela, nomor ketiga gambar padi, nomor keempat gambar tebu. Parman mendapat gambar tebu. Ia yakin, tebunya bakal terasa manis akan kemenangan.
Jam di dinding balai desa menujukan pukul satu siang, pencoblosan selesai. Panitia istirahat sebentar. Setelah selesai istirahat, panitia kemudian melanjutkan perhitungan suara. Detik-detik inilah yang menegangkan. Semua calon lurah yang duduk di depan tampak tegang dan berkeringat.
Ada empat kotak suara. Kotak suara satu selesai dihitung, Parman kalah. Keringat dingin mengucur deras dari wajahnya. Kotak suara kedua dihitung, Parman menang. Tampak wajah Parman mulai membaik dan berangsur tenang. Kotak ketiga juga selesai dihitung, hasilnya Parman menang di kotak ketiga. Parman makin gembira, wajahnya mulai tampak sumringah. Calon yang lain mulai tampak loyo. Kotak keempat, yakni kotak terakhir mulai dihitung. Parman sudah yakin bakal menang, obsesi akan kemenangan makin menggebu. Perhitungan selesai, Parman kalah di kotak keempat. Keringat dingin deras mengucur dari wajah Parman. Panitia kemudian menjumlah total suara dari keempat kotak suara. Hasilnya, Parman kalah.
Tiba-tiba kepala Parman terasa berputar-putar, wajah Lastri seperti mengitari kepalanya, seakan merajuk untuk segera dinikahi. Usaha yang diimpikan juga nampak berbayang di depan matanya. Uang tabunganya kini sudah ludes. Parman jatuh pingsan.
***
Di belakang balaidesa, Wardiyo, Katimin, Sariman duduk bersila.
“Jan, asem tenan. Jagoku kalah” Ucap Katimin yang menjagokan Parman
“Huahaha…aku menang, nomer urut  dua menang, ketela menang…hahaha…” Ucap Wardiyo sambil mengambil uang dari Katimin dan Sariman yang kalah taruhan.


[1] aja
[2] Kamu bisa aja
[3] Saya pulang dulu ya
[4] Angkringan
[5] Iya
[6] Anak lelaki saya
[7] Iya Bu
[8] Tanpa henti

Minggu, 24 November 2013

Kemerdekaan Sastra dalam Politik (Solopos, 24 Nov 2013)


            Selalu saja ada yang ingin menyeret Forum Lingkar Pena (FLP) ke salah satu partai politik, acap-kali dan didaur ulang terus menerus tanpa henti. Seakan menjadi pembenaran bahwa FLP dinisbatkan ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Saya menjadi gusar dengan tulisan Danang Muchtar Syafi`i yang dimuat di Solopos pada kolom Gagasan, Jumat Pon, 15 November 2013 dengan judul “Kemerdekaan Santri dalam Politik”, lewat tulisan tersebut, Danang membangun opini ke khalayak ramai bahwa FLP adalah bagian dari PKS. Bahkan menjadi salah satu mesin untuk rekrutment kader PKS.

Selasa, 22 Maret 2011

Book Review 01: Dua Kelamin bagi Midin



Bagi saya, membaca adalah sebuah kenikmatan sendiri. Layaknya mengunyah, mencecap sebuah makanan lezat, setiap kali melakukannya, saya akan melakukannya dengan pelan sambil menikmati setiap kunyahannya. Saya takut kenikmatan itu lekas sirna jika saya cepat-cepat menelannya. Seperti yang kulakukan terhadap buku Kumpulan Cerpen Kompas 1970-1980; Dua Kelamin Bagi Midin. Buku dengan ketebalan 400 halaman ini begitu saya nikmati. Saya enggan untuk meneguk kenikmatannya dalam sekali duduk.

Buku itu saya beli satu tahun yang lalu, namun saya baru mengatamkan hari senin kemarin 21 Maret 2011. Ada kenikmatan yang meledak dalam tubuh saya, entah di bagian mana.

Di penghujung buku tersebut, saya dibuat kaget luar biasa, saya mengenal Hamsad Rangkuti adalah penulis realis dan sederhana, namun menohok kemanusiaan kita. Tapi apa? Kali ini, lewat tulisan yang berjudul Dua Orang Bercakap-cakap, Hamsad menulis dengan gaya yang tetap sederhana, namun butuh sebuah nalar kritis, ia hanya menulis narasi pada paragraph pertama saja, selanjutnya sampai akhir cerita, isinya semuanya dialog. Inilah salah satu dialognya…

“ Telek asu! Tahu kau telek asu. Kalau itu maksud dia mengapa dia tidak gantungkan bangkai tikus. Bangkai tikus lebih busuk. Petani pasti senang melihat itu. Artinya seniman menggantung tikus, menggantung musuh petani. Yang jelas sebenarnya seniman-seniman itu mau mengejek rakyat. Mereka gantung dua kilo daging di dinding pameran, sementara rakyat makan tempe….”

Apa maksud Hamsad Rangkuti menulis dialog ini? Bisa jadi ia ingin mengkritik seniman yang sok seniman. Rambut gondrong acak-acakan biar dibilang seniman, membuat karya yang makin mengerutkan dahi biar dibilang seniman. Itulah gaya orang yang mau disebut seniman. Mau dibilang seniman? Pasang saja kutang di depan pintu rumahmu. Ketika ditanya, itulah seni kritis, para pejabat harus punya kacamata sebesar kutang, biar tahu penderitaan rakyat.

Lain lagi, Rahini Ridwan, dengan judul tulisan Kebohongan yang Terakhir. Ia mencoba membolak-balikan logika kita.

“Bukankah berbohong itu juga suatu suatu pekerjaan yang tidak gampang? Pekerjaan yang tidak dengan mudah dapat dilakukan oleh setiap orang? Bukankanh kebohongan juga membutuhkan bakat dan keberanian-fisik maupun mental? Bukankah berbohong juga adalah suatu pekerjaan yang penuh dengan resiko seperti halnya kerja yang lain? Bukankah orang yang berhasil dalam hidup adalah orang yang berani dan gigih terhadap resiko-resiko? Kalau betul demikian, apa pula perbedaannya aku dengan mereka yang lain?”

Lantas, apa itu kejujuran dan apa itu kebohongan? Sama-sama membutuhkan keberanian bukan? Namun, yang membedakannya adalah reward and punishment yang akan kita petik di dunia dan akhirat.

Sedangkan karya yang absurd, saya mendapatkan dalam buku tersebut dengan judul tulisan Subali Kawin karya Noorca Marendra Massardi. Benar-benar kali ini saya harus mengernyitkan dahi, apa maksud Noorca dengan tulisannya, ditambah gaya penulisannya yang sangat eksploratif. Ia menulis percakapan antara Subali dan istrinya, Sunarti, dengan mencampurkan peristiwa yang sedang atau telah terjadi di belahan dunia ini.

“-Sedang di Perancis barat kemungkinan akan turun salju. Bahkan di selatan akan mencapai satu derajat,-kata peramal cuaca. Subali mencium mulut istrinya. Hangatnya ibarat pemanas ruangan duapuluhtiga derajat. Dan, Sunarti balas ciuman suaminya. Padahal, sudah bertahun-tahun mereka hidup bersama. Maklumlah kalau semua Negara mengutuk Moskwa perang dingin akan terulang lagi.
-Kamu betul-betul merasa bahagia malam mini, Nar?”
-Aku sangat bahagia Mas Bal. Aku sangat bahagia-, sahut Sunarti. Diciumnya pipi Subali dengan Mesra. Brezhnev-pun lantas membalas pelukan Georges Marchais dengan hangat. Sebab Marchais-lah satu-satunya pentolan partai komunis Italia yang sungkem kepada Brezhnev beberapa hari setelah penyerbuan Rusia ke Afganistan. Padahal, partai komunis Italia dan Spanyol kedua ikut mengutuk agresi Soviet tersebut.”

Bagi saya cerpen ini sangat ekploratif dalam segi bentuk dan gaya. Ia meramu adegan perjumpaan suami istri layaknya sebuah adegan perang antar Negara, ideologi dan kepentingan.

Sebuah tulisan yang bagi saya adalah kecerdasaan menulis yang menghindari kevulgaraan, namun mampu memberi sketsa pilihan terhadap gaya untuk menampilkan bagaimana sebuah adegan bisa terhindari dan masuk kepada metafora indah, namun melipat-lipat dahi. Bahkan menyentil seseorang.

Ah, begitu banyak dan beragamnya kenikmatan yang ada dalam buku tersebut, dalam setiap judul ada sesuatu yang membuat ujung lidah kita terkejut akan sensasi kenikmatan yang ditimbulkannya. Terlalu panjang jika saya harus mendedah semua judul tulisan dalam buku tersebut, sehingga aromanya akan tercium di seluruh dunia.

Kawan, jika kau ingin menikmatinya, baca dan kunyahlah sendiri buku tersebut dengan khidmat. Mau?


Aries Adenata, S.S
Pendiri dan Pegiat Adenata Institute

NB: Bagi penerbit yang mau bukunya kami review, silahkan kirim buku sebanyak 2 eksemplar (Buku yang masuk akan kami donasikan untuk pendirian/penambahan koleksi Perpustakaan Adenata Institute). Tulisan akan kami sebarluaskan di facebook dan blog Adenata Institute.

Bagi penerbit atau perseorangan yang ingin menyumbang buku/perlengkapan perpustakaan, kami juga mempersilahkan dan membuka pintu dengan lebar. Perpustakaan Adenata Intitute ini akan dikelola bareng bersama FLP Solo Raya . Rencananya, perpustakan Adenata Institute akan menempati ruang di Solo Corner (depan RS Ortopedi Solo/Timur kampus UNS Pabelan) dan akan dibuka untuk umum.




Alamat Pengiriman Buku:
Adenata Institute
a.n Aries Adenata
Gumpang Rt 01/03, Kartasura
Sukoharjo , Jawa Tengah.
HP: 0852 9355 9082

Jumat, 15 Oktober 2010

Upaya mencari tersangka pembuat badai perbukuan


Akhir-akhir ini dunia perbukuan diterjang badai. Ini adalah sebuah badai besar yang kesekian kalinya bagi para pelaku penerbitan. Sebuah PR besar yang harus dijawab, syukur-syukur bisa mencari tersangka pembuat badai industri kreatif buku. Bagaimana tidak, para pelaku industri ini pada mengeluh karena cash in mereka melompat jauh dari tebing nyaris ke dasar jurang, bahkan ada penerbit yang tumbang karena terjangan badai ini.

Namun aneh, ditengah badai ini, acara pelatihan baik kepenulisan offline maupun online merebak bak cendawan di musim dingin, belum lagi acara jumpa penulis dan bedah buku, hampir di tiap sekolah, sudut kota, di pojok kampung dan di tengah masjid digelar sebagai ritual perayaan lahirnya buku dan jumpa fans.

Mencari tersangka
Nah, siapa tersangkanya? Ini menjadi tugas kita bersama, selaku penulis, penerbit dan pemerintah tentunya (sebagai pembuat regulasi). Ada beberapa fenomena yang perlu kita perhatikan;

Pertama, masyarakat kita dihajar habis-habisan oleh pameran buku. Bayangkan, satu kota bisa dalam setahun 6-8 kali pameran. Tentu, masyarakat akan babak belur, kemudian malas melangkahkan kaki ke pameran. Kini, pameran bukan sebuah hal istimewa karena tiap bulan pasti ada sebuah pameran. Seharusnnya pameran buku dijaga ritmenya, biar tidak berlari dan saling bertuburkan. Inilah ulah para EO yang berebut kue dan dengan genitnya menawarkan ke penerbit. Namun, penerbit seperti tak kuasa dengan kegenitan para EO, mereka tergoda kemudian ikut semua pameran yang diadakan. Siapa yang akan menjadi korban? Sang EO atau Penerbit? Semuanya tentu akan mendapatkan imbasnya. Tinggal menanti titik puncak kejenuhan masyarakat. Waspadalah!

Kedua, era digital. Mau tidak mau harus diakui, ini juga harus dijadikan tersangka. Orang kini mulai melirik untuk memiliki ebook dari pada buku karena lebih praktis. Bahkan, saya mendapatkan pengakuan yang jujur dari salah satu penulis, mereka dalam mencari refernce tinggal Tanya mbah google. So? Sang penulis yang mau menjual tulisannya dalam bentuk buku saja kini lebih memanfaatkan internet dari pada cari reference dalam bentuk buku. Masak mau maksa orang beli buku sedangkan dia internet minded?

Belum lagi keunggulan internet, sepatu rusak, kulkas rusak, hingga cara merawat baju saja, tinggal klik, sudah bertebaran di dunia maya, gratis! Kenapa harus repot beli buku ke took buku dan harganya melambung karena kenaikan kertas.

Ketiga, faktor penerbit itu sendiri. Mereka pengekor suatu buku jika buku itu meledak dipasaran, jika ada yang berjudul ayat-ayat cinta misalnya, maka akan lahir ratusan judul yang mirip bahkan covernya nyaris tak bisa dibedakan. Harusnya selektif dengan naskah. Biar suguhan itu bervariatif bagi pembaca. Bayangkan saja, jika menu makan yang ada dihadapan kita sejenis, maka kita tidak akan berselera, tetapi jika menu itu banyak pilihan, tentu kita akan tergoda untuk segera mencicipinya.

Nah, seharunya penerbit punya team research yang handal sebelum membuat buku. Segala hal harus diperhitungkan. Jika ini dilakukan, maka bakal berdampak baik bagi penerbit dan pembaca.

Upaya menghadang badai
Lantas, apakah kita harus diam saja melihat badai ini? Sekitar satu-dua minggu yang lalu, saya ngobrol panjang dengan manajer penerbit Era Intermedia, Pak Adi. Mereka bermain di dua kaki, yang satu adalah menerbitkan buku idelis, sedangkan yang kedua adalah proyek. Jika buku idealis atau umum itu seret di pasar, maka mereka akan mendapatkan darah segar dari buku proyek. Sekarang pemerintah lagi getol menggelontorkan dana buku-buku pengayaan, sekali cetak untuk satu judul bisa 15 hingga 30 ribu. Banyak bukan? Nah, inilah fungsi subsisdi silang, buku idealis tetap harus berjalan, buku proyek juga kita garap.

Masih banyak penerbit yang ngotot hanya bertahan dengan buku umum atau idealisnya. Tak hanya itu, penerbit yang masih menerapkan majemen ortodok harus segera bisa berbenah diri. Lekas bangkit menghadang badai ini. Buat langkah konkrit mulai dari: membuat team atau divisi pemburu buku proyek, kuatakan team kreatif, uasahakan ada divisi research meskipun hanya kecil

Jumat, 03 September 2010

Menebar Virus


Tubuh dan raga ini terasa berbeda di bulan Ramadhan kali ini, ada energi yang digerakan luar biasa untuk menebar virus. Ya, ada beberapa tempat sekolah yang menjadi target penebaran virus tahun ini. Beberapa sekolah tersebut adalah SMK 6 Solo, SMK 7 Solo, SMK Wikarya Karangayar, SMA Batik Solo.

Beberapa hari ini aku harus ektra betul, bagaimana tidak, aku harus menjangkitkan virus itu kepada 300 sampai 500 anak sekali datang. Di sebuah momen yang mereka namakan Pesantren Kilat. Ah, sebuah kerja yang membuat akau begitu bahagia. Menebarkan virus kepada anak-anak bangsa ini yang masih muda belia.

Aku saja sempat iri kepada mereka, kenapa masa mudaku tidak dijangkitkan virus itu. Kenapa? Waktu sudah bergulir, tak ada yang harus disesali. Kini, giliranku untuk menebarkan virus tersebut. Biarkan generasi muda Indonesia terjangkit virus itu, kemudian menggelepar hebat, bahkan sampai sakau. Biarkan bangsa ini betul-betul kena wabah, yang akan membawa sebuah peradaban baru. Ya, virus cinta menulis dan optimisme menggapai mimpi.

Rabu, 25 Agustus 2010

Tolong, aku terjebak di Australia!


Maaf, jika kau mengira aku betul-betul terjebak di negeri kangguru tersebut. Sekali lagi maaf. Tulisan ini hanya mau membagi rasa keheranan saja. Beberapa minggu yang lalu, aku iseng menulis kata “Candikala Aries Adenata” di search engine yang paling popular, yakni di mbah google.

Ha…! Novel yang saya tulis 3-4 tahun yang lalu terjebak salah satu sudut ruang koleksi National Library of Australia. Novel itu berjudul “Candikala”. Sebuah novel yang mengangkat mitos bunuh diri di Gunung Kidul. Sebuah mitos yang mereka namakan pulung gantung. Jika terjadi pulung gantung. Maka, warga(yang tua) rame-rame memukul kentongan mengelilingi kampong. Sedangkan anak-anak memainkan pecut alias cemeti.

Sebuah mitos yang di luar nalar dan akal sehat. Bayangkan! Angka bunuh diri di Gunung Kidul sekitar 20-30 pertahun. Sebuah angka tertinggi bunuh diri di Indonesia. Angka yang sangat fantastic bukan? Banyak faktor yang melatar belakangi kenapa mereka bunuh diri. Diantaranya adalah kemiskinan, penyakit, kondisi alam, dsb.

Sebuah tugas berat bagi negara dan para tokohnya untuk menyadarkan, bahwa mitos itu tidak benar. Bunuh diri adalah dosa besar dan tak terampuni!

Aku berharap, buku itu tidak terjebak secara fisik. Namun, ia dapat berjalan ke seantero dunia untuk mengabarkan duka di Gunung Kidul dan memberi pencerahan bagi mereka. Bukan kah begitu bung?

Rabu, 21 Juli 2010

Bagaimana Buku Jadi Best Seller



Temen-temen ketika jalan-jalan di sebuah toko buku, pasti kalian akan melihat beberapa buku diberi label Best Seller. Nah, kenapa buku bisa jadi best seller, ya? Emm, trus Gizolista pasti bayangin gimana nasib penulisnya, ya? Jadi jutawan, bahkan mendadak jadi milyader. Lihat saja Habiburahman, seorang penulis novel yang bukunya menjadi best seller. Ia kini meraup rupiah dengan jumlah yang besar dari hasil buku tersebut. Pasti kalian pengin, kan? Yupz, apalagi jika buku itu adalah buku karangan kita. Girang campur gembira. Ada beberapa hal yang membuat buku itu bisa menjadi best seller.

1. Endorsement
Gizolista pasti para pencinta buku, kan? So, pasti kalian melihat secuil kata-kata yang biasanya nampang di depan atau belakang yang mengungkapan tentang buku tersebut. Nah, itu yang dinamakan dengan endorsement. Biasanya para penerbit akan mencatumkan kata-kata tersebut dari para tokoh yang sudah dikenal luas oleh publik. Para tokoh tersebut seakan memberi bujuk rayu dengan kata-kata yang menyilaukan agar membeli buku tersebut. Jadi, para pembaca secara tidak sadar akan mengakui pendapat yang dihembuskan oleh para penulis endorsement meskipun belum membaca buku tersebut secara utuh. Padahal, mereka baru membaca secuil kata dari endorsemen saja.
Endorsement ini juga bak seorang sales ketchup `Tak ada ketchup nomer satu kecuali ketchup yang dijualnya`. Nah, sudah bisa membayangkan begitu dahsyatnya endorsment itu menjadi faktor daya laku dari sebuah buku. Misalnya, jika kita menulis, dan yang memberikan endorsement adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Barack Husain Obama. Orang pasti akan melirik endorsement tersebut, kemudian orang tersebut akan melangkah menuju kasir.

2. Judul yang eye cathing
Nah, jika seseorang melihat suatu buku, salah satu pertimbangan yang membuat mereka membeli buku itu atau tidak adalah sebuah judul, jika judul tersebut menarik, maka mereka akan membeli buku tersebut tanpa mempertimbankan isinya terlebih dahulu. Bagi sebagian orang, judul adalah pintu gerbang masuk kedalam isi buku tersebut.
Tetapi, sebenarnya judul bukan menjadi sebuah jaminan apakah buku tersebut bagus atau tidak. Namun, secara sekilas sebuah judul akan menyiratkan isi buku tersebut. So, jika Gizolista menulis sebuah buku, usahakan membuat judul yang eye cathing, oranga pasti akan melirik judul tersebut, `dan selanjutnya terserah Anda` (kayak iklan di TV, ya! Hehe...)

3. Peran Kritikus
Salah satu peran penting dari lingkaran perbukuan adalah peran dari kritikus. Banyak buku yang meledak dan booming karena buku tersebut sering dikritisi oleh para kritikus. So, para pembaca akan menjadi penasaran dengan buku tersebut, kenapa buku itu dibicarakan banyak orang dan kritikus di berbagai media masa.
Pembaca juga akan tergelitik, apa kelebihan buku tersebut. Jadi, peran kritikus sangat signifikan bagi para penulis, ia tak hanya menyoalkan keburukan dan kebaikan buku tersebut, disisi lain kritikus seakan menjadi manager promosi yang handal bagi sebuah buku yang sedang dilempar ke pasar. Sayang, di Indonesia kini profesi kritikus meredup. Mungkin karena tak ada ruang apresiasi dan ajang diskusi yang memadai tuk menampung segumam kata dari para kritikus. Semoga, kedepan akan tumbuh dan kembang para kritikus muda yang handal.

4. Promosi
Produk yang baik membutuhkan sebuah promosi yang baik pula, agar produknya dikenal secara luas dengan baik, jika produk atau buku itu tidak dipromokan, niscaya, buku itu tidak akan dikenal secara luas.
Promosi bisa dalam berbagai bentuk. Baik itu dalam bentuk acara/event. Misalnya, bedah buku, seminar, talk show dsb. Selain itu, promosi tidak harus dalam bentuk event, membicarakan buku dari mulut ke mulut itu juga sebuah bentuk promosi. Jadi, bagaimana pintar-pintarnya bagian manager promo membuat rekayasa agar buku dan produknya menjadi bahan perguncingan dari mulut ke mulut yang akan berdapak dikenalnya buku tersebut. Banyak kasus terkait suatu buku atau produk itu menjadi meledak lantara buku atau produk tersebut menjadi bahan pergunjingan di masyarakat.

5. Punya komunitas yang loyal

Sebuah keuntungan tersendiri jika seorang penulis tergabung dalam sebuah komunitas. Jika ia menulis buku, dengan cepat buku yang ia tulis akan segera dikenal oleh komunitasnya, bisa jadi akan dibeli oleh orang-orang yang tergabung dalam komunitas tersebut.
Komunitas juga akan menjadi sebuah corong tuk promosi. Komunitas juga bakal menjadi sebuah pendukung dari setiap gagasan yang dihusung dari lembar kata yang ditulis dalam buku tersebut.

6. Kualitas tulisan
Nah, Gizolista, dari sekian faktor pendukun diatas yang telah diurai, tentunya yang paling menentukan dari sekian faktor yang ada adalah kualitas tulisan itu sendiri. Jika tulisanya bagus, maka dengan sendirinya tulisan itu yang akan berbicara. Kualitas tulisan tersebut juga yang akan menjual diri sendiri. So, bagaimana ikhtiar penulis itu sendiri agar tulisannya berkualitas.

*Dimuat di majalah Gizone edisi 9

Jumat, 30 April 2010

“Buanglah Pacar Pada Tempatnya”




Sebuah buku yang bakal mengguncang dunia persilatan. Upz… salah ya! Sebuah buku yang bakal menghebohkan dunia marketing. Eits… salah lagi ya! Sebuah buku yang bakal mencengangkan dunia pertelevisian. Halah…kok salah terus ya!

Okelah kalau begitu…

Sebuah buku yang mengguncang jiwa anak muda yang haus akan cinta. Sebuah buku untuk darah muda yang bergejolak hebat jika melihat warna pink.
Ya, sebuah buku berasa nano-nano (halah…kayak permen aja), disajikan dengan serius, bercampur dengan jenaka bin konyol, mengharu biru, romantis yang bikin keluar ingus beleleran dari hidung. Hehe… sorry, keliru. Bikin keluar air mata, karena kita jadi taubat nasuha.

Presented by GIZONE BOOKS
Written by triple A (Afifah Afra, Aries Adenata, Asri Istiqomah)

Coming soon…
Dapatkan segera bukunya di toko-toko terdekat Anda

Senin, 15 Februari 2010

Menulis; Mengabadikan Jejak Kehidupan





Bung, cobalah tengok kebelakang! Apa yang kau lihat? Sederet kisah yang tlah kau lalui bukan? Hanya sepitas lalu, yah, bahkan tak berbekas sama sekali, ia akan memendar seiring dengan ruang dan waktu yang tertelan oleh waktu itu sendiri. Bung, ingat! Jatah umur yang diberikan kita sudah tercatat di lauhul mahfudz. Tak kurang dan tak lebih. Ada riuh tanya yang bakal mengusik hati kau, tentu! Ia akan mengolok dan menggunjing dirimu. Buat apa waktu yang selama ini diberikan oleh sang Rahman?
Ingat bung! Sedetik waktu yang tlah kita lewati, tak bakal bisa kita undo layaknya toot dalam computer, yang bisa seenaknya kita undo jika kita melewati satu huruf saja. Tidak, ia tak bakal bisa kita undo meskipun ia hanya sedetik saja. Cukup miris bukan? Yah, jika kau sudah berkubang dengan tanah, dan umurmu hanya dijatah dengan 40, 50, atau 60 tahun, cukup sudah umur yang melekat di ragamu, ia lenyap bersama raga yang telah tertimbun dengan tanah. Dan, namamu juga berakhir sudah seiring dengan langkah kaki para peziarah yang meninggalkan kubur dengan seret-seret sendal yang mereka pijak.

Bung, namamu, jejak kehidupanmu dan amalmu terhenti sudah. Ya, berakhir sudah, persis layaknya sebuah film bioskop yang ditutup dengan kalimat `The end`. Benar bukan? Kau mau berkata apa? Pasti `YA` kan? Apakah kau ingin seperti manusia pada umumnya. Jika sudah datang malaikat pencabut nyawa, hilang sudah nama, jejak dan amal kita? Ustadz Antonio Syafii pernah berkata, umur manusia ada dua. Pertama adalah umur secara biologis, jika tubuh ini sudah mencium tanah tanpa henti diiring tangis dan doa, dalam waktu 30, 40, 50, 65 selesai sudah riwayat sebuah nama. Ia terhenti tanpa ada rekam jejak di generasi selanjutnya. Kedua adalah umur secara karya, bisa jadi raga yang telah terbujur diatas tanah dengan kurun waktu 39, 49, 59 itu dicabut dari sang Pemberi Nyawa. Namun, jika ia punya karya, maka ia akan hidup sepanjang masa, rekam jejak kehidupannya bakal dikenang bagi generasi selanjutnya, bahkan, jika karya itu bisa mendatangkan manfaat bagi banyak orang, bisa jadi ia akan menjadi anak sungai pahala yang akan terus mengalir kepada kita. Bukankah kita sering mendengungkan istilah nafsu dunia dengan pasif income bukan? Kenapa kita tidak berpikir dengan keinginan paling purna tuk punya pasif income kelak di akhirat nanti. Biarkan income pahala itu mengalir terus kepada kita meskipun raga ini sudah dimakan ratusan atau bahkan ribuan ulat tanah.

Bung! Lihat jam tanganmu. Sekarang jam berapa? Tanggal berapa? Bulan apa? Tahun berapa? ... sudah kau lakukan? Inalilahi...kau pasti terperanjat bukan! Teryata kau sudah memakan waktu dengan tanpa sadar melewatkan begitu saja bukan?
Bung! Jangan kau pejamkan mata, tatap matahari, sebentar lagi ia bakal menggelinding ditelan bumi. Nah, itulah kejadian tiap hari yang bakal kau temui, matahari terus akan berputar sampai dengan tiba masanya tuk tidak berputar.

Saatnya sekarang tuk memilih. Memilih tuk tidak memilih atau memilih dengan kesadaran purna. Ambil kertas atau sahut laptop yang ada disampingmu, biarkan jari ini menuturkan kisah kehidupanmu lewat tulisan. Dan, ia bakal mengabadikan jejak kehidupanmu. Kelak, anak cucu, karib, kerabat, umat manusia bakal menjumpaimu dengan artefak tulisanmu yang terserak dimana-mana, sepanjang masa. Kau pun bakal tercatat dalam sejarah, bahwa kau punya rekam jejak kehidupan yang bisa ditelusur dengan sebuah bukti, yakni sebuah tulisan.

Bung, apakah kau puas hanya sekadar menulis kisahmu? Kisahmu saja? Bergunakah? Apakah kau tak punya keinginan yang lebih bijak? Membuat sebuah maha karya tulisan yang mampu menggerakan umat manusia untuk berbuat kebaikan. Membuat manusia menitikan air mata, lantas taubat nasuha. Membuat manusia yang tersesat kembali ke jalan yang lurus dan terang benderang? Bung! Jika kau mau, kau sanggup tuk membuatnya. Bukankah Hasan Al Bana, Imam Al Ghozali, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki, Imam Syafi`i dan imam-imam lainnya juga manusia. Ia sepertimu, manusia yang diberikan waktu 24 jam dalam sehari, tak ada bedanya bukan? Kini, kau tak bisa mengelak dengan kata`Kesibukan`. Toh mereka yang mengeluarkan masterpiece karya juga punya jatah waktu yang sama bukan?

Kini, hamparan pilihan itu dihadapan kau, tinggal memilih, menulis tuk mengabadikan jejak kehidupan dan membuat pasif income di akhirat kelak, atau kau justru duduk termangu dengan tulisan ini, dan berkata, ”Benar ya tulisan ini! Kita harus membuat pasif income tuk akhirat kelak dengan sebuah tulisan” dan kau pun melipat tulisan di majalah ini, kemudian membuangnya ke tong sampah tanpa melakukan apa yang barusan kau ucap. Begitu?

Minggu, 31 Januari 2010

Menulis Cerpen yang Jujur





Pernahkah kau dibohongi? Bagaimana rasanya? Sungguh sakit, kan? Pastinya kita tidak mau dibohongi bukan. Jika kita manghadirkan kejujuran, tentu buahnya akan manis bukan? Itulah esensi dari kejujuran. Nah, ternyata dalam kehidupan dan dunia imajiner dibutuhkan sebuah kejujuran.
Lantas, apa kaitan kejujuran dengan sebuah cerpen. Mudah saja, pastinya sebagai pembaca, kita tidak mau dibohongi bukan? Nah, sebagai penulis cerpen yang baik, kita harus jujur kepada diri sendiri dan pembaca. Lalu, bagaimana membuat cerpen yang jujur.
Yah, berarti kita harus jujur! Maksudnya, jika kita ingin cerpen kita bagus dan enak dibaca, kita harus jujur. Nah loch! Kok malah puter-puter jawabannya. Bingung kan! Hehe...selamat berbingung ria…
Saudara-saudara, ada beberapa trik jika ingin kita menulis cerpen yang jujur.
Pertama adalah menghadirkan tokoh yang jujur. Jika kita sanggup menghadirkannya dalam cerpen kita. Laksana pembaca seperti ditelanjangi. Ia seperti menemukan keculasan atau kebaikan, yang barangkali itu adalah sifatnya sendiri atau orang yang disekililing kalian. Upz…bukan maksud hati membuat kalimat yang jorok lho! Maksudnya begini, setiap kali kita memuat tokoh, kita harus memperhatikan apa yang diucapkan sang tokoh, apa yang melekat pada sang tokoh, gerak-gerik sang tokoh. Kita harus betu-betul jujur, bandingkan jika kita menghadirkan dua tokoh dalam cerpen kita. Yang satu adalah seorang kenek bus kota, sedangkan yang satunya adalah eksekutif muda. Kau tak bakal bisa berkata bohong kepada pembicara, jika seorang kenek dan eksekutif tentunya berbeda bahasa dalam percakapannya, berbeda pakaian, berbeda gerak-geriknya. Coba saja bayangkan, jika kita berbonhong dalam cerpen kita.

“Ciuuh, bangsat bener tuh bus itu, main serobot aja!”Ucap sang eksekutif muda sambil menyekanya keringatnya dengan handuk warna merah yang sejak tadi melekat dipundaknya.

“Saudara-saudara, terimaksih telah menumpang bus ini” Ucap sang kenek dengan manis. Ia tampak lebih manis dengan setelan jas warna hitam yang ia kenakan.

Nah, apa yang bakal terjadi dengan pembaca jika menemukan teks yang tidak jujur tersebut, tentunya ia akan mengatakan sang penulis tidak jujur, pembual, masak kenek begini, dan eksekutif begitu.
Kedua, kita harus jujur dalam membuat setting. Setting disini ada dua, pertama adalah waktu, yang kedua adalah TKP alias tempat kejadian perkara. Wuis...kayak istilah kepolisian, ya! Hehe...biar tidak dimonopoli pihak kepolisian saja. Nah, jika kita bisa menyajikan setting yang jujur. Pembaca akan terasa tertampar angin gurun pasir ketika membaca Ayat-ayat Cinta, akan terasa kakinya ditonjoki batu seukuran kepala kerbau jika membaca Ronggeng Dukuh Paruk. Buatlah setting dua tempat yang berbeda, yang satu di kota, yang satu di desa, buat dengan sejujur-jujurnya. Jangan coba-coba membohongi pebaca. Pembaca cerdas tuk meniali apakah sang penulis jujur atau tidak. Saya yakin, kalian pasti bisa membuatnya.
Ketiga adalah jujur menghadirkan konflik. Jika kalian membuat konflik, jangan tiba-tiba sang tokoh mati, tanpa ada sebab-akibat, pembaca akan sulit menerima. Ingat, membuat konflik atau pun menyelesaikan sebuah konflik, kalian harus ada sesuatu yang bisa diterima dengan logika. Tidak bisa semaunya sendiri mentang-mentang kalian yang menulisnya.
Keempat adalah membuat alur yang jujur. Perhatikan kalimat dibawah ini:
1. Raja telah mati
2. Raja telah mati akibat penyakit kanker
Alur adalah sebuah kalimat sebab-akibat. Jadi, kalimat yang pertama atau yang kedua bisa dikatakan dengan alur?
Nah, yang terakhir dalam tulisan ini adalah penutup cerita. Ada dua jenis penutup dalam sebuah cerpen. Pertama adalah tertutup. Kedua adalah terbuka. Terserah selera kalian. Apakah kalian mau jujur untuk mengatakan bahwa sang pangeran akhirnya menikah dengan sang putri dan hidup bahagia selama-lamanya (hehe...kayak penutupan cerpen jadul, ya!), atau kalian mau berbohong, bahwa sang pangeran bingung untuk mengambil sebuah keputusan, apakah ia mau menikah dengan sang putri (eit, dengan ending yang terbuka ini, pembaca jadi penasaran, kan?) Upz, apa? Berbohong? Maksudnya bohong kalau kita tidak mengatakan yang sejujurnya bahwa sang pangeran sebenarnya sungguh binggung. Hehe...
Akhirnya, selamat membuat cerpen yang jujur.... (Aries Adenata)

Senin, 07 Desember 2009

Menghadirkan Sastra di Ruang Publik Solo


Aries Adenata


Sastra dan Masyarakat

Sastra adalah sebuah media untuk menyampaikan kebaikan untuk kebaikan. Sastra adalah media untuk memanusiakan manusia. Sastra adalah cermin atau pantulan dari masyarakat itu sendiri dan ungkapan-ungkapan lainnya. Sedabrek ungkapan sastra nyaring terdengar ditelinga kita. Namun, secara umum (bukan kesimpulan) bahwa sastra adalah alat untuk menebarkan nilai, idealisme, dan pemikiran.
Nah, jika ungkapan-ungkapan tentang sastra itu memang benar adanya, yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana posisi sastra di tengah masyarakat kini? Kenapa pertanyaan itu bisa muncul! Ya, kini sastra patut dipertanyakan keberadaannya. Sastra tidak lagi menempati hati masyarakat. Sastra yang dahulu menjadi ujung tombak untuk sebuah perubahan, jika kita tarik keberadaan karya sastra tempo dulu, ketika di zaman Hindia Belanda, sastra menjadi sebuah alat propaganda, ketika era menjelang kemerdekaan, sastra menajdi sarana untuk memprovokasi masyarakat agar punya semangat nasionalis, dan bagaimana ketika sastra menjadi alat pendobrak sebuah tradisi kolot yang sudah tidak sesuai dengan zamannya, lihat saja karya sastra”Siti Nurbaya”karangan Marah Rusli, sebuah karya yang menentang akan perjodohan yang sudah tidak lagi tepat untuk diterapkan di zaman sekarang (masih banya lagi pesan yang disampaikan oleh karya tersebut, ini hanya satu tafsir saja).
Dahulu juga, ketika zaman belum mengenal media radio ataupun televisi, bagimana cerita rakyat atau dongeng menjadi media satu-satunya dalam menyampaikan pesan kepada masayakat, sarana itu menjadi sangat ampuh. Dengan hadir dalam pertemuan keluarga menjelang tidur, cerita rakyat hadir dan diperbincangkan ditengah-tengah pertemuan warga, pertunjukan wayang orang dan wayang kulit bisa kita dapati di kampung-kampung. Dan bagaimana sekarang? Sastra tak menempati ruang kusus masyarakat, kini masyarakat lebih suka dengan media audio visual.

Publik Space di Solo
Kini, public space di Solo mulai tergarap dan tertata lebih baik. Mulai dari City Walk, Taman Balai Kambang, Taman Sriwedari, Taman Budaya Jawa Tengah dan berbagai tempat lainnya. Dengan adanya public space yang kini sudah tersedia lebih baik, seharusnya ada upaya untuk memanfaatkan tempat tersebut semaksimal mungkin, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana Memanfaatkannya. Kita coba menarik satu contoh saja, Taman Budaya Jawa Tengah, disana tersedia berbagai fasilitas mulai dari arena teater, musik dan lain-lain, tapi, yang menjadi persoalan adalah, bagaimana sebuah masyarakat atau komunitas kecil bisa tampil atau diberi ruang dan waktu untuk bisa menikmati dan menggunakan fasilitas tersebut, jika harus merogoh kocek yang besar untuk bisa menggunakannya, bagi masyarakat proletar atau komunitas marjinal, mereka tidak akan mampu untuk menggunakan, apalagi menikmati fasilitas yang tersedia disana.
Tak adil jika kita tidak membandingkan dengan public space yang lain, lihat saja city walk, sebuah fasilitas yang dilengkapi dengan hot spot, masyarakat diberi keleluasaan yang luar biasa untuk bisa mengakses internet secara gratis. Sedangkan untuk memanfaatkan, sekedar duduk dan menikmati pemandangan di sekitarnya, tidak dipungut biaya.

Sastra Solo di Publik Space Solo?
Sudah dibahas diatas, bagaimana posisi sastra di masa lalu dan kini, serta bagaimana kondisi public space yang ada di Kota Solo dengan jargonnya “The Spirit of Java”. Nah, kini yang menjadi PR bersama adalah, bagaimana mereposisi kembali sastra di tengah masyarakat? Juga, bagaimana memanfaatkan public space yang ada di Kota Solo?
Penulis mencoba menawarkan sebuah gagasan, entah diterima atau hanya dianggap sebuah celotehan saja, tetapi ada sebuah niatan baik untuk membumikan sastra kembali. Gagasan tersebut adalah, dengan memanfaatan public space yang sudah tersedia itu, untuk dimanfaatkan atau digunakan untuk kegiatan bersastra dan berkesenian, agar masyarakat kecil, serta umum dapat menikmati, serta mendapatkan pembelajaran dan penyebaran nilai dari sastra.
Kita sudah mahfum, bahwa di Solo ada sebuah public space yang diperuntukan untuk bersastra dan berkesenian. Tetapi, ruang itu hanya bisa dinikmati oleh yang punya anggaran, juga orang yang betul-betul konsern dengan sastra dan seni, kita sering melihat, bagaimana acara-acara sastra dan seni di TBJT, hanya dihadiri oleh segelitir orang saja, karena image yang ada, TBJT adalah tempat yang angker dan angkuh, angker dalam artian hanya orang yang punya talent di bidang sastra saja yang mau masuk. Angkuh, karena hanya orang tertentu saja yang bias memanfaatkan fasilitas disana.
Solo adalah gudang komunitas sastra dan pegiat sastra, jika pegiat sastra dan komunitas sastra memanfaatkan public space yang ada di Solo, sastra dan seni tak kan dipandang lagi menjadi sebuah aktivitas eklusif yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja, jika sastra dan seni hadir di ruang public space tersebut, maka, masyarakat umum akan mudah mengakses dan menikmati sastra tersebut, juga kegiatan pemanfaatan public space tersebut oleh pegiat sastra dan komunitas sastra adalah dalam upaya untuk memasyarakat sastra dan seni di tengah masyarakat yang kini posisinya sudah tergeser oleh audio visual. Namun, perlu diperhatikan juga, bahwa manusia adalah mahkluk sosial, mereka akan membutuhkan sarana untuk berinteraksi dengan orang lain. Untuk itu, jika ada aktifitas di public space, maka aktifitas itu akan menjadi tempat atau sarana untuk berinteraksi dengan yang lain.
Ada satu public space di Solo yang kini bergeliat dan mulai menampakan eksitensinya di tengah-tengah masyrakat, yaitu city walk. Keberadaannya kini muali terasa, namun, belum begitu optimal. Ada bebrapa event seni, sastra maupun budaya yang sudah beberapa kali berlangsung disana, diantaranya adalah pameran kartun, Solo batik carnival, kuliner dan lain-lain. Sungguh, jika tempat ini dimanfaatkan betul-betul oleh para pegiat sastra dan komunitas sastra, maka, city walk akan menjadi ruang ekpresi sastra dan budaya yang mampu memasyarakatkan sastra dan budaya karena beberapa faktor. Pertama, ketika hadir disana, masyarakat tidak harus dipungut biaya. Kedua, kesan inklusifitas yang menempel di TBJT tidak akan muncul disana, karena image yang muncul untuk city walk adalah tempat kongkow-kongkow, berbeda dengan TBJT yang berkesan tempat khusus untuk sastra dan seni saja. Ini adalah sebuah keuntungan dan peluang yang harus diambil oleh para pegiat sastra dan komunitas sastra, jika mereka ingin menghadirkan sastra di public space Solo.
Semoga saja public space yang lain di Kota Solo juga aksesnya semudah city walk alias gratis. Jika pemkot beritikad demikian, maka penulis yakin akan makin suburnya pegiat sastra dan komunitas sastra, seni dan budaya yang akan lahir, tumbuh dan memanfaatkan public space yang ada. Maka, akan terejawantahkan betul semboyan yang kini santer didengung-dengungkan oleh pemkot Solo, yaitu “Solo The Spirit of Java”.
Yang menjadi persoalan berikutnya adalah, apakah ada para pegiat sastra atau komunitas sastra mau membaur, memanfaatkan dan hadir di public space di Solo? Saya yakin ada! Karena para pegiat sastra dan komunitas sastra ingin terus menghidupkan dan memasyarakat sastra kembali. Tapi kapan? Dan siapa? Kita tunggu saja tanggal mainnya…


*Kerja Keras adalah Energi Kita

Menggagas Temu Sastra Solo


Aries Adenata


Berbicara tentang kegiatan bersastra atau berbudaya, kota Solo adalah tempat menyemai benih, tempat kelahiran juga tempat tumbuh-kembang para seniman dan budayawan. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan besar adalah, dengan semua predikat yang disandangnya, apalagi jargon yang sekarang dihasung oleh pemkot Solo, Solo The Spirit of Java. Apakah para pelaku seni atau pekerja seni Solo mampu membawa masyarakat menjadi subyek dari proses berkesenian atau justru tetap mempertahankan masyarakat yang hanya dijadikan obyek seni itu sendiri. Kenapa pertanyaan itu muncul? Ya, muncul karena rasa keprihatinan penulis melihat fenomena bahwa sastra sekarang hanya menjadi milik kalangan tertentu yang memuja-mujanya begitu berlebihan. Sastra kini menempati dunianya sendiri, ia tidak mampu dijangkau oleh masyarakat awam, apalagi untuk bisa hidup ditengah-tengah masyarakat yang kini semakin komplek permasalahannya.
Sastra juga bisa diibaratkan buah durian, bagi pemuja ia begitu nikmat, bagi orang yang tidak suka, mencium baunya saja ia sudah muntah-muntah apalagi untuk memakannya, ia bakalan mabuk laur biasa. Untuk menjawab pertanyan diatas, tentunya harus ada upaya yang serius dari pemkot kota Solo , DKS (dewan kesenian Surakarta) dan para pelaku seni di kota Solo dan sekitarnya. Kenapa harus Solo dan sekitarnya, karena Solo adalah medan magnet bagi para pelaku seni sekitarnya, tentunya sangat bijak bila para pelaku seni dan masyarakat daerah disekitarnya ikut memperhatikan dan diperhatikan oleh kota Solo, karena disekitarnya adalah daerah dari dampak medan magnet tersebut, yang tentunya berdampak bagi citra Solo dan daerah disekitarnya juga. Harus ada sebuah mutualisme-simbiosis diantara berbagi pihak yang berkepentingan untuk terus melestarikan seni dan budaya.
Lalu, upaya apakah yang harus ditempuh? Siapa yang harus memikul tanggung jawab tersebut? Dimana? Kapan? Ada beberapa institusi yang secara moral punya kewajiban untuk memikul tanggung jawab tersebut. Pertama adalah pemerintah kota Solo. Karena secara infrastruktur dan finansial pemkot Solo sangat mendukung. Tengok saja fasilitas yang ada di Solo, misalnya TBJT (taman budaya Jawa Tengah) yang berlokasi di wilayah Solo. Dengan menyandang nama Jawa Tengah tentunya daya jangkau tempat tersebut tidak hanya untuk kalangan Solo semata, tetapi untuk seluruh jawa Tengah. Sekali lagi, saya menegaskan bahwa secara fasilitas dan spirit, Solo adalah poros untuk berkesenian dan bersastra.
Kalau kita melihat dari segi spirit pemkot kota Solo, Solo The Spirit of Java. Sangat tepat jika pemkot Solo menjadi pemantik dan pelopor untuk memprakarsai temu sastra Solo (plus melibatkan daerah sekitarnya). Kita perlu mengacungkan jempol kepada walikota Solo yang baru saja kelar mengadakaan dua hajatan besar, yaitu konggres WHC (Worlds Heritage Cities). Hajatan yang lain adalah SIEM (Solo International Etnic Music). Hajatan yang kata Jokowi bakal digelar rutin tiap tahun. Saya berharap Jokowi dengan semangat yang menggebu-gebu untuk rebranding kota Solo juga diimbangi dengan penataan dari dalam, jangan hanya show of force saja. Penataan dari dalam tersebut bisa diawali dengan temu sastra Solo untuk menyerap ide-ide dari para pelaku seni juga sekaligus melibatkan masyarakat untuk sama-sama membangun brand kota Solo dan budayanya.
Elemen kedua yang seharusnya punya beban moral yang cukup besar adalah DKS (Dewan Kesenian Surakarta). DKS yang baru saja dibentuk dan diprakarsai oleh Jokowi ini belum kelihatan gebrakannya yang menonjol. Jika kita mengaca apa yang telah dilakukan leh DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), maka sangat patut jika DKS dipertanyakan keberadaannya. Bagaimana tidak, DKJ yang menyandang Dewan Kesenian Jakarta, bukannya Dewan Kesenian Indonesia ternyata mampu untuk menjadi pematik berkesenian dan bersastra bagi wilayah-wilayah seluruh Indonesia. Banyak kegiatan yang diprakarsai oleh DKJ tidak semata untuk menghidupkan dan menonjolkan sastra atau kesenian Jakarta saja, namun juga memberikan ruang dan tempat untuk sastra dan kesenian daerah yang kemudian diboyong ke Jakarta untuk difasilitasi agar bisa tampil di Jakarta. Belum lagi kegiatan rutin DKJ yang lain. Misalnya, sayembara menulis novel DKJ yang pesertanya adalah orang-orang dari berbagai pelosok negeri ini. Bahkan sayembara ini adalah salah satu penghargaan sastra yang bergengsi di Indonesia.
Nah, seharusnya DKS bisa belajar dari apa yang telah dilakukan oleh DKJ. Untuk itu, DKS sangat pantas sebagai elemen kedua yang jadi tertuduh untuk punya beban moral dalam rangka memprakarsai temu satra Solo. Kegiatan serupa ini pernah digelar oleh DKJ dan mendulang sukses. Dari acara temu sastra Jakarta lahirlah dua buku, yaitu antologi cerpen dan antologi essay yang memperluas cakrwala khazanah sastra di Indonesia khususnya bagi Jakarta sendiri, karena dengan keberadaan buku yang berisi gagasan-gagasan para pelaku seni untuk mencari format dan solusi bagi pengembangan sastra dan budaya.
Satu lagi yang tak kalah penting untuk punya beban moral adalah masyarakat dan komunitas-komunitas sastra, tetapi kadarnya bebeda dengan elemen-elemen diatas. Masyarakat dan komunitas tersebut punya beban moral untuk mendukung apa yang dilakukan oleh pihka-pihak yang beritikad baik demi mekestarkan seni dan budaya. Bukannya menghujat apa yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mau berbuat baik untuk kepentingan seni dan budaya. Bukan berarti masyarakat dan komunitas-komunitas sastra itu tidak boleh kritis terhadap kebijakan yang diambil.
Bukan berarti tulisan ini mencari siapa yang jadi tertuduh untuk gagasan diatas. Tetapi, hanya mengingatkan saja bahwa pemkot Solo jika berjalan sendiri tak akan mampu, sama halnya jika DKS tidak dapat dukungan juga tidak akan bias berjalan sendiri, begitu pula masyarakat dan komunitas-komunitas sastra, mereka akan menemui jalan buntu jika tidak dapat perhatian dari yang lain. Alangkah syahdunya jika semua elemen itu bergandengan tangan untuk menggagas wacana diatas demi kehidupan sastra dan budaya Solo dan sekitarnya.
Kini yang menjadi pertanyaan adalah, semua elemen itu punya itikad untuk menggagas temu sastra Solo atau tidak? Guna mengurai benang merah masalah kehidupan bersastra dan berbudaya yang kian hari kian tidak menentu arahnya. Ada sebuah kata-kata bijak yang patut kita jadikan bahan renungan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghagai budayanya. Benarkan kita sudah menghargainya? Hingga produk kebudayaan kita banyak dicuri oleh bangsa lain. Salah satunya adalah hak paten batik yang kini dimiliki oleh Malaysia. Belum lagi kekayaan intelektual yang lain. Namun, kita tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkannya. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi dan menjadi sebuah pelajaran yang paling berharga buat kita semua.
Kita harus yakin bahwa masalah bersastra dan berbudaya ini bisa kita selesaikan bersama. Mengutip salah satu jargon iklan calon kandidat presiden Indonesia 2009 (yang kini sudah menyatakan mundur dari bursa pencalonan presiden) “There is a will, there is a way”. Semoga…

*Kerja Keras adalah Energi Kita