Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 November 2012

Jalan pintas itu bernama sosial media

“Langkah seribu selalu dimulai dengan langkah pertama”. kata bijak yang begitu sederhana, tapi sarat makna. Namun, menyentil kita, untuk tidak tergugu, diam dalam keterbatasan. Sebuah keniscayan, bahwa semua langkah pasti dimulai dari langkah pertama. Nah, bagaimana dengan langkah kita yang jauh tertingal dibelakang? Ada jeda waktu, meloncati masa, melewati generasi.

Rabu, 10 Oktober 2012

Nila di belakang rumah

Mencari usaha sampingan memang tidak mudah bagi yang belum terasah insting bisnisnya. Pasalnya, mereka tidak tahu apa yang mau dan bisa dikerjakan. Bagi saya, usaha sampingan adalah usaha di luar core utama bisnis yang selama ini saya lakukan. Disamping itu, memilih bisnis sampingan harus memperhatikan beberapa hal. Pertama, harus tidak menggangu bisnis utama kita. Kedua, mudah dan bisa kerjakan. Jika kita memilih bisnis sampingan yang tidak kita kuasai maka alamat berantakan bisnis sampingan tersebut. Bahkan, bisa merembet ke bisnis utama kita. Ketiga, ada waktu yang tersisa. Maksudnya di luang atau sisa waktu kita dari bisnis utama. Nah, karena kondisi tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk bisnis sampingan. Yakni, pembesaran ikan nila. Kenapa ikan nila? Setelah searching dan mencari informasi jenis ikan yang mudah dan cempat berkembang, akhirnya saya tertarik ikan nila. Dari sumber informasi yang saya dapatkan bahwa ikan nila bisa dipanen dalam waktu 3-4 bulan, sedangkan ikan gurame membutuhkan sekitar 12 bulan. Tentu cukup lama jika memilih gurame, meskipun harga ikan nila lebih rendah daripada ikan guram. Tetapi bagi saya adalah usia panen yang lebih cepat agar perputaran uangnya juga cepat. Kenapa tidak ikan hias? Ya, sebenarnya saya sangat tertarik dengan ikan koi, warnanya membuat saya betah memandang ikan tersebut. Namun, karena kolam saya adalah kolam baru. Maka, kolam tersebut belum “jadi” (sebutan kolam yang belum terbentuk ekosistemnya). Koi butuh perwatan yang exstra, sedangkan nila kemampuan adaptasinya cukup bagus. Akhirnya, saya pun membeli benih ikan nila sebanyak 150 (kurang lebih) ekor. Insya Allah, bisa dipanen bulan Desember-januari. Semoga…

Rabu, 01 Desember 2010

Bengawan Solo (sejarah yang tersembunyi)





















SAOS "Kaos Rasa Solo"
www.saos-solo.blogspot.com

Dahulu kala Sungai Bengawan Solo mengalir tenang dari hulunya di wilayah utara hingga bermuara di Pantai Sadeng yang kini berada di Kabupaten Gunung Kidul. Namun, empat juta tahun yang silam, sebuah proses geologi terjadi. Lempeng Australia menghujam ke bawah Pulau Jawa, menyebabkan dataran Pulau Jawa perlahan terangkat. Arus sungai akhirnya tak bisa melawan hingga akhirnya aliran pun berbalik ke utara. Jalur semula akhirnya tinggal jejak yang perlahan mengering karena tak ada lagi air yang mengalirinya. Wilayah ini menjadi kaya akan bukit-bukit kapur yang menurut beberapa penelitian, semula merupakan karang-karang yang berada di bawah permukaan laut.



Kini, bekas aliran sungai yang populer lewat lagu keroncong berjudul Bengawan Solo ciptaan Gesang itu menjadi objek wisata menarik. Tak ketinggalan Pantai Sadeng yang menjadi muaranya, selain menjadi objek wisata juga menjadi salah satu pelabuhan perikanan besar di Yogyakarta. Keduanya menjadi jejak geologi yang berharga. Beberapa waktu lalu, sempat diadakan paket wisata menyusuri jalur Bengawan Solo Purba hingga muaranya.



Dalam perjalanan menuju Pantai Sadeng, beberapa ratus meter jalur aliran Bengawan Solo Purba bisa dinikmati pemandangannya. Jalur aliran itu bisa dilihat setelah sampai di dekat plang biru bertuliskan "Girisubo - Ibukota Kecamatan". Berhenti sejenak di pinggir jalan menuju pantai atau berjalan perlahan adalah cara paling tepat untuk menikmati pemandangan bekas aliran ini, sekaligus memberi kesempatan mengabadikannya dengan kamera.



Tampak dua buah perbukitan kapur yang tinggi memanjang mengapit sebuah dataran rendah yang semula adalah jalur aliran. Dataran rendah yang kini menjadi lahan berladang palawija penduduk setempat itu berkelok indah, memanjang sejauh 7 kilometer ke arah utara, hingga wilayah Pracimantoro di Kabupaten Wonogiri. Kelokannya membuat mata tergoda untuk menyusurinya ke utara hingga ke tempat pembalikan aliran sungainya.



Jalur aliran juga bisa disusuri ke arah selatan hingga bekas muaranya di Pantai Sadeng. Menurut penuturan salah seorang nelayan, muara Bengawan Solo Purba berada di pantai sebelah timur, wilayah yang kini termasuk areal pelabuhan perikanan. Meski demikian, penyusuran ke selatan tak akan seindah ke utara, sebab jalan yang menuju ke Pantai Sadeng tidak searah dengan jalur aliran sungai terbesar di Jawa itu.



Bila telah sampai ke pantainya, maka pemandangan berbeda akan dijumpai. Wilayah pantai juga telah mengalami perubahan, seperti jalur aliran yang kini menjadi ladang-ladang penduduk. Pantai Sadeng kini menjadi pelabuhan perikanan di Yogyakarta yang paling maju, terbukti dengan kelengkapan sarana pendukungnya, seperti perahu motor yang berukuran lebih besar, terminal pengisian bahan bakar, rumah pondokan nelayan hingga tempat pelelangan ikan dan koperasi.



Proses Berbalik Arah Bengawan Solo Purba



Sebelumnya arah aliran sungai Bengawan Wonogiri Solo ini mengalir ke arah selatan. Sungai ini bermuara di Samodra Hindia Indonesia. Proses tentonik tentunya sejak dulu juga ada. Lempeng Ustrali di sebelah kanan (selatan) ini menabrak dan menghunjam ke bawah Pulau Jawa.



Karena adanya kerak Ustrali menghunjam kebawah tentunya bagian pinggir (bag selatan) Pulau Jawa ini akan terangkat terus menerus kan ? Sehingga lama kelamaan aliran air permukaan yg melalui sungai akan terganggu.



Sampai akhirnya ketika pengangkatannya sudah cukup tinggi, maka airpun tidk dapat mengalir ke arah selatan, dan “berbalik” ke utara. Saat ini kita hanya dapat mengamati adanya endapan-endapan sungai Bengawan Wonogiri Solo purba.



Pengangkatan ini masih terus beralngsung hingga saat ini. Pengangkatan ini terjadi bersamaan pula dengan proses terjadinya gempa.Karena proses pengangkatan ini perlahan, dan seperti kita tahu bahwa gelombang pantai selatan ini sangat besar maka dinding-dinding pantai selatan Jawa ini sangat curam. Hanya dibeberapa tempat saja yang menunjukkan topografi (kelerengan rupabumi) landai seperti di pantai selatan Jogja. Ketika bagian selatan Pulau Jawa ini sedikit terangkat, tentusaja gelombang laut juga akan menghantamnya. Dan akhirnya bentuk pantai selatan ini berupa dinding yg curam. (sumber: bengawansolo.net)


Sabtu, 16 Oktober 2010

Oleh-oleh Solo



Setelah memproklamirkan diri SAOS, para kisanak pasti bertanya, kemana SAOS, kok ndak kelihatan. Ngumpet, ya?

Eit, bukan ngumpet. Tapi kami terus-menerus olah kanuragan. Setelah proklamasi, kami disibukan dengan persiapan banyak hal terkait berdirinya SAOS. Kami ingin benar-benar menyuguhkan hidangan visual Solo dalam bentuk kaos.

Nah, SAOS sudah tahap pra final, design sudah ready (tapi belum kami publish, takut dibajak duluan). Dalam waktu dekat, kami akan segera produksi. Selanjutnya, kami akan segera membuka counter resmi kami.Mohon doanya, untuk tempat kami masih merahasiakan, karena team SAOS masih berdebat sengit untuk menentukan lokasi.

Sabar, ya kisanak!
SAOS “Kaos Rasa Solo”
Bakal jadi oleh-olehnya wong Solo…
www.saos-solo.blogspot.com
(gambar ilustrasi diolah dari wong Solo)

Minggu, 26 September 2010

SAOS Bangun Rumah


Setelah proklamasi yang diselenggarakan dengan cara seksama, team SAOS sekarang lagi gencar-gencarnya membangun sebuah rumah. Mulai menyiapkan bahan bangunannya hingga mengecatnya dengan warna pelangi. Wuis…keren, kan! Yupz…rumah itu berada di dunia maya. Kalau mau melihatnya, silahkan langsung meluncur ke TKP di

www.saos-solo.blogspot.com
(silahkan klik)

Kenapa kami membangun rumah di dunia maya dulu? Wes…yang jelas lewat dunia maya khalayak umum dari pojok Indonesia sampai pojok dunia dapat mengakses kami dengan cepat. Inilah adalah salah satu daya upaya kami untuk mengenalkan branding kami dengan secepat kilat. Sebuah upaya yang tentunya membutuhkan kritalisasi keringat.

Tak hanya menyiapkan rumah semata, tentunya kami juga harus memberikan hidangan yang bakal membuat para pengunjung mau mampir dan duduk sejenak di rumah kami. Hidangan itu sedang dikerjakan oleh para juru masak kami, mulai dari menacari bahan, meracik, kemudian memasaknya secara masal, hidangan itu bakal nano-nano, ada kaos putih, kaos hitam, kaos hijau, kaos orange, kaos biru. Pokoknya kaos itu bakal berasa “Kaos Rasa Solo”

Tunggu hidangan kami bung!
Sabar ya! Orang sabar bakal dikasihani oleh Allah, lho.

Kamis, 23 September 2010

Proklamasi SAOS


Kami dengan ini menjatakan berdirinya label kreatif SAOS (Solo Punya Kaos) dengan slogan “Kaos Rasa Solo”.

Hal-hal jang mengenai produksi, pemasaran, penjualan, showroom d.l.l.,
diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Solo, hari 22 boelan 9 tahoen 2010
Atas nama manajemen SAOS.
Aries Adenata

Jumat, 16 Juli 2010

Kini hadir, Griya Batik Notonegoro




Seiring dengan waktu yang berjalan, usaha yang kami jalani makin menapaki tahapan-tahapan yang jelas dan tersistematis. Sebuah usaha dari kristalisasi keringat (meminjam istilah dari Tukul Arwana). Tak hanya keringat, tapi dengan peluh yang bersimbah.

Kami sadar mengawali usaha dari titik nol bukanlah sebuah pekerjaan mudah, butuh ekstra tenaga, pikiran yang lebih, energi yang berlipat, pikiran yang multi kreatif. Kamipun menyusun langkah dan strategi dengan cara yang kami anggap sistematis (meskipun kadang meloncat). Tahapan-tahapan itu adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pertama. Membuka toko batik online, yakni dengan memanfaatkan media website (www.batikklewersolo.com) dan jejaring social facebook (facebook: batikklewer solo).

Melihat perkembangan toko online yang terus membaik, serta kami rasa sudah mulai mapan, mulai dikenal dan mempunyai pelanggan dari berbagai kota di tanah air (Jabodetabek, Papua, Jawa Timur, Jawa Barat, Riau, Jawa Tengah, Sumatra). Kamipun memulai tahap yang kedua.

2. Tahap kedua kami adalah membuat branded. Ya, branded tersebut adalah Notonegoro Collection. Meskipun kami sudah punya branded sendiri, untuk produk toko online kami sebagian masih di suplie oleh para suplier kami yang baik. Kami ingin terus mejaga hubungan baik yang telah terjalan erat selama ini dan kedepannya dengan para supplier kami.

Setelah dirasa toko online berjalan dengan harapan, branded yang mulai kita munculkan di permukaan. Kamipun ingin lebih menancapkan branded di dunia fashion, kususnya batik. Kamipun memulai tahap selanjutnya.

3. Tahap Ketiga, membuat galery di dunia ofline (nyata). Yakni dengan mendirikan atau membuat Griya Batik Notonegoro. Dengan berdirinya Griya Batik Notonegoro, kami berharap para costumer yang ingin melihat langsung produk kami dan bertegur sapa dengan kami, dapat bersua di Griya Batik Notonegoro yang beralamat di Sadakan Lor Rt01/Rw03, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo. HP: 0852 9355 9082

Syukur tak terkira kami panjatkan kepada Allah SWT atas sekenario yang diberikan kepada kami sehingga dapat melaksanakan tahapan-ahapan yang telah kami susun. Semoga tahapan-tahapan selanjutnya dapat kami lewati dengan baik. Mohon doanya semua para supplier, pelanggan, sahabat, crew, keluarga, handai taulan.

Jangan lupa kunjungi kami di facebook: batikklewer solo atau langsung datang ke Griya Batik Notonegoro yang beralamat di Sadakan Lor Rt01/Rw03, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo (Timur PT Tyfountex, keselatan, lapangan Gumpang, belok kanan, skitar 500 meter, selatan/kiri jalan)


Salam hormat dan takdzim dari kami
Aries Adenata, SS
(Owner Notonegoro Collection/Griya Batik Notonegoro)


NB: Project pengadaan seragam yang sudah dan sedang dikerjakan oleh Notonegoro Collection
1. Seragam batik Salimah Jateng (Sudah)
2. Seragam batik salah satu UKM di Sukoharjo (Sudah)
3. Seragam batik salah satu TKIT di Kerinci, Sumatra (Proses pengerjaan)
4. Seragam batik salah satu SMPIT di Kerinci, Sumatra (tahap negosiasi)
5. Seragam batik salah satu Puskesmas di Kerinci, Sumatra (tahap negosiasi)

Senin, 22 Maret 2010

Menembus Ruang dan Batas



Laju dunia kini tak bisa dilepaskan dengan internet. Ia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup manusia modern sekarang. Ia tumbuh kembang dengan berbagai rupa dan bentuknya, disetiap generasi baru muncul evolusi wajah internet, mulai dari search engine, email, ym, web, blog, hingga sampai ke jejaring social fb atau yang sejenisnya. Bahkan, kita tidak tahu, apa yang bakal terjadi dikemudian hari dengan internet, ia akan menyeruak kepermukaan dengan evolusi entah apalagi.
Menangkap Peluang
Melihat perkembangan internet yang begitu pesat, tentu sayang jika kita tidak dapat menangkap peluang yang tergelar di hadapan mata kita. Sebuah peluang yang akan lewat begitu saja jika kita melepaskannya. Bayangkan, hampir di setiap belahan dunia, internet hadir. Tiap detik, menit, jam, kita bisa melihat kejadian apa yang sedang terjadi di seluruh dunia, sebuah kedahsyatan era informasi dunia maya.
Keberadaan internet bak cedawan di musim hujan, ia menyebar begitu cepat, di seluruh penjuru dunia, dari berbagi bangsa dan suku mengaksesnya. Tentu ini adalah pangsa besar yang terbesar di dunia. Ia punya kelebihan yang begitu dahsyat, ia bisa menembus ruang dan batas. Kapanpun, dimanapun ia bisa diakses. Sebeuah kelebihan yang dimiliki oleh internet.
Jika kita menangkap peluang tersebut dengan jeli, maka, manusia yang punya kepentingan organisasi atau bisnis dapat mempromokan dengan sangat maksimal.

Sebuah Data
Dari 1.5 miliar netter saat ini, 41% berada di Asia, kemudian diikuti Eropa 25% disusul Amerika Utara 16%. Dan Afrika menjadi benua dengan tingkat netter terkecil di dunia yakni hanya 5.6%.

Figure 1
Dengan melihat data diatas, tentu sayang bukan? Jika kita melewatkan potensi pasar di Asia, apalagi jika kita sebagai orang Indonesia.
Memancing di Dunia Maya
Jika Anda adalah seorang pemancing, atau pernah melihat seorang pemacing sedang memnacing ikan, tentu kalian akan melihat sang pemancing hanya terjebak kepada satu tempat, yakni sungai atau laut atau danau yang ia lempar kail kedalamnya. Cukup terbatas ruang dan waktunnya bukan?
Nah, jika Anda melempar kail di internet, maka, tak ada batas ruang dan waktu, ia akan menjadi umpan yang terus-menerus ada, bisa mengalirkan ikan-ikan yang terkena umpan, di belahan dunia yang lain. Bahkan, ia tak basi dimakan waktu, ia bisa menjadi umpan 24 jam nonstop. Umpan itu yang akan bergerilya sendiri untuk menemukan ceruk pasarnya sendiri, karena dunia maya tersebut akan menghubungkan dengan pasarnya. Salah satu kelebihannya lagi bukan?
Akan tetapi, sang pemancing harus tahu medan dan arah kail yang ia lempar. Apakah ikannya suka dengan umpannya, arusnya deras atau tidak dan sebagainya. Sama halnya, di dunia internet, sang pelempar kail di dunia maya harus memahai lekuk-lekuk dunia internet. Jika sang pelempar kail itu tahu lekuk-lekunya, niscaya ia bisa bermain di lekuk tersebut, bahkan akan menggoda calon komsumen untuk memakan umpan tersebut.
Kini, tinggal bagaimana kita menangkap peluang tersebut, hanya mejadi penonton bagi sang pemancing? Atau kita turut melempar kail kedunia maya yang begitu menggoda? Terserah Anda…