Tampilkan postingan dengan label FLP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FLP. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Agustus 2010

Pendaftaran FLP Solo Raya Online (silahkan klik judul ini untuk mengisi formulir pendaftaran)


Forum Lingkar Pena dan Gerakan Sastra Motivasi

“Forum Lingkar Pena sangat fenomenal. FLP adalah hadiah Tuhan untuk Indonesia” (Taufiq Ismail).
Ungkapan Taufiq Ismail kami rasa tidak berlebihan. Dibandingkan dengan Negara-negara di Asia Tenggara lainnya, jumlah penulis di Indonesia-sebagaimana jumlah pertumbuhan penduduknya-sangat besar. Pada dekade terakhir Indonesia diramaikan oleh munculnya penulis-penulis muda berusia di bawah 30 tahun serta maraknya pertumbuhan kantong-kantong sastra di kota-kota di Indonesia.

Salah satu yang dianggap fenomenal adalah munculnya Forum Lingkar Pena (FLP), tahun 1997. Dalam waktu yang relatif singkat, organisasi yang memiliki cabang di hampir 30 propinsi dan di mancanegara ini telah beranggotakan lebih dari 5000 orang, hampir 70% anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, 500 di antaranya menulis secara aktif di berbagai media masa. Mereka berusaha membina 4500 anggota FLP lainnya untuk menjadi penulis pula! Selama dua belas tahun sejak berdiri, organisasi penulis ini telah menerbitkan lebih dari 500 buku yang sebagian besar terdiri dari karya sastra serius, fiksi remaja, dan cerita anak. Tidak ada lembaga yang mensponsori FLP. Kemandirian ini memungkinkan menulis sesuai kata hati. Koran Tempo, salah satu media paling berwibawa di Indonesia, menyebut FLP sebagi sebuah “Pabrik Penulis Cerita!”

Suatu hal yang menggembirakan, dari ratusan buku berlogo FLP yang diterbitkan oleh puluhan penerbit mitra, ternyata rata-rata berisi cerita-cerita yang memotivasi. Jadi, dengan jaringan yang luas, anggota yang banyak, serta produktivitas yang tinggi, tak berlebihan jika FLP memiliki kesempatan emas untuk memperbaiki negeri ini, lewat gerakan sastra motivasi.


Penfataran Anggota Baru

Untuk menyemai bibit para penulis muda, maka FLP Solo Raya membuka pendaftaran Anggota angakatan ke 6. Insya Allah bakal digelar di bulan oktober 2010. Untuk pendaftaran bisa dilakukan secara online via sms. Ketik: Daftar FLP_Nama_Alamat_TTL. Kirim ke: 08172831102. Jangan lupa klik judul di atas untuk mengisi formulir pendaftaran! Kami tunggu, ya!

NB: Informasi biaya dan tempat pelatihan menyusul

Minggu, 08 Agustus 2010

Benarkah Mereka Murtad dari FLP?


Beragam komentar bersembulan ketika saya menulis refleksi kecil tentang sinetron KCB yang dikaitkan dengan FLP. Ada yang jengah, juga ada yang simpatik. Maklum, FLP adalah sebuah organisasi yang TAMBUN –maaf, menggunakan istilah tambun, karena laju besarnya tak berimbang - . Jika, ada yang bersuara lantang tentang FLP, ribuan pasang anak mata dari berbagai penjuru bumi Indonesia akan menyergap, tak hanya itu, mereka juga akan memuntahkan kata untuk menghadang diskursus tersebut(mungkin karena kecintaan terhadap FLP).

Saya akan mencoba menggeser diskursus KCB dengan wajah FLP kedepan. Ya, saya mencuplikan dua tanggapan terkait tulisan saya yang lalu (Sinetron KCB, sebuah refleksi FLP yang tak mau beranjak dewasa)

Mmm… ada perang batin juga mungkin bagi para penulis FLP. Saya pernah bilang ke adik-adik: berani gak bikin Da Vinci Code versi dunia Islam, dimana sekte-sekte berbasis Hassan Sabbah bisa jadi sangat kuat atau ada pesantren-pesantren yang memang sistem feodal...nya demikian ekstrim? iiiii..tattuuuut. Saya nulis Existere saja banyak yg mengkritik lho. Tapi memang harus ada yang berani untuk menulis sesuatu yang lain. Bahwa da'wah yg universal ini pada akhirnya akan merambah hingga ujung-ujung dunia : para teroris, pelacur, pedofil, sipir penjara, mucikari. Semoga para penulis muslim bisa terus istiqomah ya... (Sinta Yudisia-facebook)

Saya termasuk anggota pasif FLP yang kadang nyinyir juga terhadap buku-buku karya FLP. Tapi, ketika orang luar yang berkomentar, ada juga syaraf yang meradang. Bagaimanapun "ibu" saya FLP. Meski agak lucu. Oleh oknum aktivis FLP, karya saya kadang dinilai sudah tidak "FLP" lagi. Malah ada yang bilang tak layak terbit. Mungkin karena ke "FLP" an nya telah ilang. Atau saya tidak cukup "FLP". Maklum pesantren tak pernah, liqo 3 kali DO. Tapi, belakangan saya berpikir lain. Agak lain. Melihat reaksi beragam terhadap sinetron KCB, saya menjadi bependapat, setiap seniman pena bolehlah memainkan perannya masing-masing. FLP tak perlu seragam. (Tasaro-dalam milis FLP)

Benarkah Mereka Murtad?

Dari kedua tanggapan diatas -meskipun banyak yang memberikan tanggapan terhadap tulisan yang sebelumnya-, ada dua dimensi yang patut kita perbincangkan. Dimensi yang pertama adalah ada pergeseran kultur di dalam FLP. Mereka mencoba untuk mengksplorasi jagad tulisan ini. Mereka mencoba mendobrak tradisi yang selama ini sudah melekat turun menurun dari nenek moyangnya -walaupun tidak semuanya sama-. Melintas sekat pemahaman bahwa penulis FLP adalah penulis taubat. Bayangkan, ada penulis FLP yang mengangkat kisah pelacur, menulur gang Doly, mendedahnya, kemudian menyuguhkan dalam sebuah novel. Mereka seperti ingin mengatakan bahwa Islam tidak hanya bicara soal sholat dan puasa. Islam juga bicara korupsi, penindasan, perlawanan, pelacuran, wc, pelecehan, gender, negara, politik, pemerintahan dsb. Islam itu universal (syamil)

Dimensi yang kedua adalah gejolak dari internal yang begitu dahsyat. Bayangkan! Sudah menjadi darah daging bagi para penulis FLP menggoreskan tinta tentang pertaubatan. Ada anggota FLP menulis yang berbeda, tidak hanya hitam dan putih, namun melukiskan warna lain, bahkan radak abu-abu. Apa yang mereka dapat? Reaksi keras, bahkan dihujat, MURTAD! Sebuah pergolakan yang cukup keras memang, tapi inilah dinamika yang mendewasakan bagi FLP. Saya yakin, sudah ada yang berubah dari FLP, setelah membaca tanggapan dari Deny Prabowo. Ya, karya anak FLP sudah masuk ke celah-celah yang selama ini dianggap sebuah tembok yang sulit ditembus.

Inilah wajah FLP kedepan, karya mereka harus melintas sekat, batas, budaya, bahkan agama, karena FLP sejatinya terbuka untuk semua suku dan agama. FLP.

Tapi, yang menjadi PR besar adalah, ketika ada pioner perubahan itu muncul. Bagaimana dengan anggota yang lain, yang masih menganggap gaya FLP tempo dulu adalah sesuatu yang sakral? SALAH, jika kita mengajak mereka semua berubah kelamin baru, sama saja kita akan menyeragamkan kelamin FLP lagi. Tetapi, bagaimana FLP punya aneka wajah yang berbeda, dan tidak saling meghujat satu yang lain, menganggap satu sohih, sedangkan yag lain tidak sohih untuk dinyatakan sebagai karya FLP.


Dan, saya yakin juga ada banyak anak FLP yang berwarna diluar sana. Namun, belum terekspos baik oleh kita. Karena jarang ada tradisi kritik sastra di dalam FLP.

Memulai Tradisi Kritik Sastra

Itulah sebenarnya tugas kita. Bagaimana memulai tradisi kritik karya atau sastra dari dalam. Dengan kritik karya/sastra, akan muncul pebincangan dan terekspos sebuah karya anak FLP, dengan diperbincangkan akan membuka mata orang untuk melongok isi karya tersebut, dengan dilongok, akan ada penilain baik dan buruk dari pembaca lainnya. Kritik sastra tidak hanya sekedar menilai baik dan buruk, ia juga mengemban tugas untuk menyeberluaskan sebuah karya yang ada. Indah bukan? Jika FLP memulai tradisi kritik sastra/karya dari dalam?

Inilah seharusnya wajah FLP kedepan, akan banyak kritik karya yang dialamatkan terhadap karya FLP baik dari para kritikus karya internal maupun kritikus karya dari akademisi dan luar lingkaran FLP.



Melawan Jebakan Politik Sastra dan Kanonisasi Sastra

Setelah bisa muncul dengan aneka wajah dan rupa –sudah tidak ada konflik internal tentang madzabnya-, FLP harus siap bertanding di jagad sastra Indonesia dengan karya dan politik sastra. Kalau dengan karya, ya, saya yakin akan banyak bermunculan yang berwarna. Lalu, bagaimana dengan politik sastra? FLP harus melek dengan masalah ini, diluar sana, genderang perang terhadap dominasi standart nilai sastra sudah ditabuh bertalu-talu, salah satunya oleh Saut Sitomurang yang gemar berteriak-teriak. Ada titik kecil pembelaan terhadap karya anak FLP yang keluar dari Saut Sitomurang.

“Makanya tidak dianggap “artistik” atau “bermutu” atau “dahsyat” karya sastra para perempuan muda lain, yang mungkin bahkan jauh lebih “cantik” dan muda dibanding kaum Sastrawangi tersebut, yang menolak untuk buka-bukaan dalam fiksi mereka, dengan pakaian mereka, yang memilih untuk menulis tentang kehidupan Islami misalnya. Pernahkah kita membaca ada “kritikus” sastra membahas fiksi para pengarang perempuan Forum Lingkar Pena yang berjilbab itu? Begitu jelekkah fiksi mereka? Kenapa jelek? Apa ukuran yang dipakai untuk menjelekkannya? Fiksi para perempuan muda Forum Lingkar Pena diukur dengan standar buka-bukaan Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu tentu saja jelek amat hasil karya kelompok Forum Lingkar Pena itu. Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau standar “estetika” Forum Lingkar Pena yang jadi kriteria penilaian prosa Ayu dan Djenar dkk? Apakah lucu membayangkan Ayu Utami dan Djenar memakai jilbab? Kok bisa lucu? Apa yang menyebabkan timbulnya rasa lucu yang lebih bersifat mengejek jilbab itu? Apakah jilbab bukan simbol “perempuan” dibanding bunga Kantong Semar yang bernama laki-laki itu atau Rafflesia yang bau itu?” (Saut Sitomurang - Makalah untuk Kongres Cerpen Indonesia V Banjarmasin, 26-28 Oktober 2007)

Ini sebuah peluang baik yang sebenarnya harus ditangkap oleh FLP. Sudah ada orang luar yang melirik dan membela madzab FLP. Tapi? Apakah ada niat untuk mengarah kesana?


23.10, 8 Agustus 2010
Aries Adenata, S. S
Ketua FLP Solo Raya
(www.ariesadenata.blogspot.com)

Sinetron KCB, Sebuah Refleksi FLP yang Tak Mau Beranjak Dewasa (bagian satu)


Syukur tak terkira di bulan Ramadhan ini ada sebuah sinetron yang otak ceritanya adalah pegiat FLP.

Tapi? Kenapa harus tapi? Ya, karya-karya FLP selama ini dikenal dengan dakwah verbal, dimana simbol-simbol Islam begitu kental di dalamnya. Misalnya teriakan takbir, masjid, ukhti dsb. Celakanya lagi, hamper seragam cerita yang diangkatnya. Yakni, orang yang nakal kemudian menjadi baik, atau paling-paling akhirnya sang tokoh taubat. Seakan dunia ini hanya ada hitam dan putih.

Kini, karya itu disuguhkan dalam bentuk layar kaca. Apakah dengan gaya FLP selama ini? Jika ya! Maka genaplah sudah, bahwa olok-olokan kawan kita dari komunitas sastra lain betul-betul sohih. FLP adalah penulis kisah seragam dan taubat.

Sekilas saja, paling saya hanya mampu melihat sinetron itu tidak lebih dari 5 menit, karena saya mau muntah jika melihat sinetron Indonesia yang hanya memiliki adegan wajib dan seragam; nangis, racun/bunuh diri, menyiksa, selingkuh. Bahkan, menjual mimpi.

Sempat, saya menyaksikan sinetron KCB, mungkin hanya 5-10 menit, sebuah cerita lanjutan dari naskah novel KCB karya Kang Abik. Lagi-lagi, sebuah cerita tentang anak badung yang dimasukan pondok oleh kedua orang tuanya agar anak tersebut taubat dan menjadi baik. Lalu, yang menjadi pertanyaan. Apakah endingnya sang anak akan betul-betul taubat Mas Sakti? Dan, akan bertabur dakwah yang menggurui Mas Sakti? (sang penulis sekenario sinetron KCB). Jika ya! Inilah refleksi bahwa FLP tak mau beranjak lebih dewasa lagi. Ia enggan untuk menyuguhkan karya yang lebih humanis, karya dakwah yang tidak verbal semata, tidak sama dari turun temurun nenek moyangnya. Bukan berarti meninggalkan ke khasan FLP. Bukan! Tetapi bagaimana FLP mengekksplorasi jagad tulisan ini biar tidak seragam dan diulang-ulang. Ada yang menyuguhkan karya verbal dan non verbal.

Semoga FLP bisa lebih dewasa lagi, agar sejarah mencatat. Bahwa FLP tidak hanya bisa melukis dunia ini dengan hitam dan putih, tetapi, bisa melukis dunia ini dengan warna pelangi.

Bukan kah begitu kawan?
(Lihat artikel lainnya di: www.ariesadenata.blogspot.com)

Senin, 07 Desember 2009

Mengolok-ngolok FLP


Aries Adenata


Ketika membaca essay-essay Iwan Simatupang, aku terasa dihajar, kepalaku bak dibenturkan tembok, aku terhuyung, bahkan, hampir roboh ke bumi. “Gila, Iwan Simatupang memang, gila” Gumamku. Semakin aku bergumul dengan tulisannya. Darahku naik ke ubun-ubun, aku pun pasang kuda-kuda, siap menyerang balik, menghajarnya, bahkan siap bergulat dengan pemikirannya. Tak hanya itu, amarahku menyebar, membias dan memantul ke arahku.
Ketika aku sudah merasa kuda-kuda ku siap, aku siap membenturkan diri denganya. Tapi, tunggu dulu! Kenapa aku kini merasa enggan untuk menghajarnya, bahkan tertunduk malu, memandangnya pun aku ndak berani. Apakah nyaliku redup. Jadi pengecut, pecundang yang ingin lari ketika sudah dihajar habis-habisan olehnya.
Kenapa? Aku mencari cermin, kulihat diriku dan orang sekitar ku. Wow, aku terhenyak, bahkan, hampir terjungkal menyadari diri, aku dan orang-orang sekitarku yang mengaku penulis dan telah berserikat sekian tahun tak beranjak dari tidurnya, yang diaku sebagai pabrik pembuat cerita, yang mengaku sebagai perserikatan penulis terbesar di negri seribu bencana dan duka ini.
Oh kenapa? Aku baru sadar, sekian tahun tumbuh kembang diantara para komunitas lain, pubhilsing, pegiat, kritukus, tidak bisa mengambil sari pati pelajaran dari mereka. Kenapa? Apakah aku dan perserikatanku sudah bebal tak mau mendengar itu semua? Atau memang pura-pura tak mau mendengar masukan dan kritikan dari mereka. Atau masukan itu terlalu satun, sehingga kita dengan enteng dan mudah menghindar atau bahkan berselimut dibalik kebesaran nama yang telah dipupuk oleh generasi pendahulu kita. Kalau benar, perserikatan ini memang harus diolok-olok karena tak mau merubah diri, berbenah diri.

Melahirkan Kritikus Karya

Sebuah serikat penulis yang hanya memikirkan pertumbuhan kader masal tanpa menigkatkan kualitas tulisan para kadernya. Sebuah serikat yang pincang, yang tak mau mengembangkan sayapnya. Bagaimana tidak, serikat yang sudah tambun ini tak memikiran tuk melahirkan essayis atau kritikus dari dalam mereka, mereka asyik berkutat dengan produksi karya yang masal, tanpa diimbangi dengan kritik yang handal dan tajam. Sebenarnya, sadar atau tidak sadar, betapa pentingnya melahirkan kritikus sastra/karya dari dalam. Menurut Iwan Simatupang, Kritikus sastra bak seorang manager promosi yag handal, ia mengulas kelebihan sebuah karya hingga ia bisa diapresiasi oleh semua golongan dan masyarakat, sebuah karya akan menjadi dikenal, bahkan menjadi populer oleh ulasan para kritikus sastra/karya.
Bangun bung, kalian serikat penulis yang memiliki kader-kader para dosen sastra. Data dan kumpulkan mereka untuk bergumul dan menghajar karya-karya dari dalam. Bahkan, pukul balik jika ada yang menyerang karya kalian. Kini, saatnya menghimpun serikat penulis ini untuk menujukan taringnya.


Politik Sastra

Tak hanya itu, aku juga sadar betapa kita lemah tak berdaya menghadapi sebuah politik sastra, kita menjadi bola bagi komunitas dan mafia perbukuan di negeri para koruptor ini. Ditendang dan dilempar kesana-sini, hingga kita hanya mengikuti arus dan sekenario yang telah mereka buat. Sadar bung! Kini, saatnya kita sadar dan mampu membuat politik sastra. Kalian sudah punya kader yang menduduki posisi strategis di ranah-ranah publishing, sebuah modal besar untuk bermain dan membuat rekayasa/politik sastra.
Bangun bung, kalian sudah punya kepengurusan baru, buat dan manfaatkan divisi kritik untuk mengkader penulis kritik, buat divisi ini mampu menghajar tulisan kader-kadernya sendiri, tulisan orang lain, buat divisi ini untuk melek dengan politik sastra, bahkan rekaya social.
Sadar bung, kepalkan tangan, sisingkan baju, sudah saatnya kalian tak tertidur lagi dengan kepengurusan yang baru. Sebuah kapal yang telah dinahkodai Intan Setiawati Savitri (Hehe... Mbak Intan guru nulisku ketika di Solo. PEACE!)
Sementara, sekian dan terimakasih telah membaca olok-olokan ini.

*Kerja Keras adalah Energi Kita