Kamis, 27 Juni 2013
SAUT SITOMURANG & PKS
SAUT: Udahkorup masik jualan ayat pulak. Mbok yo isin sitik Pak De. (ketika mengomentari situs ini: http://www.tribunnews.com/2013/06/27/fahri-hamzah-ceramahi-kpk-pakai-surat-al-hujurat)
Saya:Mbok udah mencelanya, nanti kalau sudah terbukti dipengadilan, silahkan dihujatpaklek. Kalau belum, ya sabar dulu paklek.Paklek tahu kan, kepentingan mediamasing-masing, jadi berita tergantung pesanan juga.Pa jenegan juga ikut-ikutan?Kayak kanonisasi sastra tulisan paklek itu lho...
Kamis, 20 Desember 2012
Jodoh, umur dan buah (Buat lelaki/perempuan galau yang ingin menikah dengan melihat umur calon pasangan)
Memilih pasangan memang susah-susah gampang, buktinya yang cepet, usia muda saja sudah menikah, tapi bagi yang sulit, halah…masih berkutat dengan status jomblonya.
Nah, kamu masuk kategori mana? Sudah menikah di usia muda atau belum menikah di usia lanjut (maaf, kalau menyebut usia tua nanti dibilang SARA, hehe…).
Kenapa nikah jadi hal yang menakutkan?
Bagi seorang lelaki, jika ingin memutuskan untuk meminang anak gadis orang, dia harus bepikir seribu kali, karena setiap hari totonan televesi yang menyajikan bahwa kehidupan ini penuh dengan materialistik/hedonisem.
Kamis, 22 November 2012
Jalan pintas itu bernama sosial media
“Langkah seribu selalu dimulai dengan langkah pertama”. kata bijak yang begitu sederhana, tapi sarat makna. Namun, menyentil kita, untuk tidak tergugu, diam dalam keterbatasan. Sebuah keniscayan, bahwa semua langkah pasti dimulai dari langkah pertama.
Nah, bagaimana dengan langkah kita yang jauh tertingal dibelakang? Ada jeda waktu, meloncati masa, melewati generasi.
Rabu, 10 Oktober 2012
Nila di belakang rumah
Mencari usaha sampingan memang tidak mudah bagi yang belum terasah insting bisnisnya. Pasalnya, mereka tidak tahu apa yang mau dan bisa dikerjakan. Bagi saya, usaha sampingan adalah usaha di luar core utama bisnis yang selama ini saya lakukan.
Disamping itu, memilih bisnis sampingan harus memperhatikan beberapa hal. Pertama, harus tidak menggangu bisnis utama kita. Kedua, mudah dan bisa kerjakan. Jika kita memilih bisnis sampingan yang tidak kita kuasai maka alamat berantakan bisnis sampingan tersebut. Bahkan, bisa merembet ke bisnis utama kita. Ketiga, ada waktu yang tersisa. Maksudnya di luang atau sisa waktu kita dari bisnis utama.
Nah, karena kondisi tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk bisnis sampingan. Yakni, pembesaran ikan nila. Kenapa ikan nila? Setelah searching dan mencari informasi jenis ikan yang mudah dan cempat berkembang, akhirnya saya tertarik ikan nila. Dari sumber informasi yang saya dapatkan bahwa ikan nila bisa dipanen dalam waktu 3-4 bulan, sedangkan ikan gurame membutuhkan sekitar 12 bulan. Tentu cukup lama jika memilih gurame, meskipun harga ikan nila lebih rendah daripada ikan guram. Tetapi bagi saya adalah usia panen yang lebih cepat agar perputaran uangnya juga cepat.
Kenapa tidak ikan hias? Ya, sebenarnya saya sangat tertarik dengan ikan koi, warnanya membuat saya betah memandang ikan tersebut. Namun, karena kolam saya adalah kolam baru. Maka, kolam tersebut belum “jadi” (sebutan kolam yang belum terbentuk ekosistemnya). Koi butuh perwatan yang exstra, sedangkan nila kemampuan adaptasinya cukup bagus.
Akhirnya, saya pun membeli benih ikan nila sebanyak 150 (kurang lebih) ekor. Insya Allah, bisa dipanen bulan Desember-januari. Semoga…
Senin, 18 Juni 2012
Solo Tanpa Jokowi
Segudang prestasi telah tertoreh Jokowi ketika didapuk rakyat Solo sebagai pemangku jabatan nomer satu di tanah bengawan. Mulai dari pemindahan pedagang kaki lima yang tanpa kekerasan, pembenahan pasar tradisional, serta penyediaan fasilitas publik seperti Solo Car Free Day. Berbagai terobosan yang menjebol kemandekan tatanan birokrasi tersebut mendapatkan simpati publik, bahkan media masa ikut mengeluk-ngelukankannya, juga mengggadang-gadangnya menjadi pemimpin masa depan.
Jokowi dan Kota Solo
Jika Jokowi terus konsisten, maka namanya makin bersinar terang benderang. Nah, yang jadi pertanyaan, apakah berbanding lurus antara ketenaran sosok Jokowi dengan ketanaran Kota Solo? Tentu ini menjadi pertanyaan yang pantas dilontarkan.
Jika sosok Jokowi dipersonifikasikan sebagai kota Solo. Maka kota Solo bakal cilaka besar, karena Jokowi tidak bakal bisa menjabat sebagai walikota Surakarta untuk yang ketiga kalinya. Yang cukup pelik adalah, sosok pengganti Jokowi untuk menjadi walikota penerus beliau, tentu orang akan membandingkan kebijakan dan upaya yang dilakukannya dengan walikota sebelumnya, yakni Jokowi. Jika terjadi demikian, kota Solo dipertaruhkan kembali, apakah populer seperti ketika dipimpin Jokowi atau malah terjun bebas entah kemana rimbanya.
Tentu publik akan mengingat, semasa Jokowi menjabat, banyak gelaran budaya kelas dunia digelar, diantaranya SIEM (solo international etnik music), SIPA (solo international performing art), SBC (solo batik carnival) dan yang lainnya. Tak hanya itu, acara-acara nasional juga banyak berdatangan ke Solo. Mulai dari konggres luar biasa PSSI, pertemuan parlemen se-asia juga berada di Solo dan yang lainnya.
Kini, yang terjadi di kota Solo adalah wisata Jokowi. Jika ada gelaran nasional, maka peserta acara menginginkan Jokowi lah yang membukanya, kemudian selesai acara foto-foto bareng dengan Jokowi, yang bakal menjadi souvenir atau buah tangannya adalah foto bareng bersama Jokowi. Bukanya batik Solo atau kerajianan tangan. Tentu ini sah-sah saja, tetapi akan berdampak pada kota Solo. Karena Solo bukanlah Jokowi. Solo besar dan melambung saat ini tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok Jokowi. Namun, tidak lantas mempersonifikasikan Jokowi adalah Solo, Solo adalah Jokowi. Tetapi yang harus dibangun adalah pondasi karakter dan budaya Solonya, itu yang akan membuat nama Solo terus dikenang dan melegenda, bukan pencintraan diri sosok Jokowi yang terus menerus. Seperti halnya kasus mobil ESEMKA ketika diangkat ke publik, tentu hanya berdampak positif pada sosok Jokowi semata, Solo hanya kecipratan momen dan peristiwa saja.
Seharunya budaya Solo atau potensi yang dimiliki Solo lah yang harus di rekayasa atau diangkat publik guna pencitraan kota, agar berdampak pada ekonomi kota Solo. Bukannya citra sosok Jokowi yang tentu akan melejitkan karir pribadi Jokowi sendiri.
Pembangunan Simbolisme
Jokowi pernah melontarkan sebuah tagline “Solo masa depan adalah Solo masa lalu”. Mungkin inilah platform Jokowi dalam membangun Solo. Ia ingin Solo menjadi kota yang maju tetapi dengan tidak meninggalkan budaya masa lalu. Tentu keinginan tersebut pantas kita apresiasi. Namun, ada beberapa hal yang pantas kita cermati.
Dalam rangka mewujudkan platform tersebut Jokowi menggeber dengan membuat simbol pembangunan masa depan Solo dengan cara mengadakan Bus Tingkat, Batik Solo Trans, dan Railbus. Lantas, untuk simbol pembangunan masa lalu, Jokowi mengadakan sepur klutuk jaladara, kereta kencana, dan bangunan-bangunan milik pemerintah (sekolah, kantor kelurahan, dan puskemas) dengan arsitek tempo dulu. Dari pengadaan atau pembangunan tersebut, bisa kita lihat, bahwa Jokowi terjebak pada pembangunan simbol semata tanpa memikirkan esensi pembangunan. Ia lebih memetingkan prasasti pembangunan dalam bentuk fisik. Ia juga gemar membangun rekam jejak keberhasilannya dengan monumen hotel yang bertebaran di penjuru kota Solo, meski ia berdalih membatasi pendirian mall.
Inilah paradigma yang sering digunakan oleh para pemimpin bangsa ini, bahwa pembangunan itu adalah pembangunan fisik, mereka berorientasi bahwa pembangunan itu harus berwujud pada benda atau materi. Mungkin mereka menganggap bahwa itu yang terlihat oleh kasat mata, agar bisa mendapatkan penilaian dari publik, atau bisa menjadi prasasti peninggalan ketika sudah tidak menjabat lagi. Lantas, jika pembangunan hanya diwujudkan dalam bentuk benda atau materi an sich? Bagaimana dengan manusianya? Apakah masyarakat Solo tidak butuh pembangunan mental dan spiritual. Dalam hal ini, Jokowi telendor atau bahkan tidak melirik untuk melakukan pembangunan dalam bidang mental dan spiritual untuk masyarakat Solo. Lihat saja, berapa hotel-hotel tinggi yang menjulang ke langit berdiri di Solo. Tanpa menyiapkan karakter budaya peyangganya, misalnya tukang becak yang menyapa ramah dengan senyum dan perilaku khas orang Solo ketika hendak bertanya atau mau mengantar ke hotel. Bukannya abang tukang becak yang ongkang-ongkang diatas becaknya, dengan kaki jegang, sambil menghisap rokok, tanpa mau turun atau senyum ketika ditanya oleh calon pengguna becak untuk keliling kota Solo. Karakter budaya orang Solo lah yang sebenarnya harus dipertahankan dan dibangun, karena itulah yang menjadi nilai jual. Kita ingat dengan streotip bahwa orang Solo itu halus dan ramah. Tetapi, apa yang terjadi sekarang?
Lihat dengan gelaran event budaya, begitu megah dan gegap gempitanya Solo menyelenggarakan SIEM, SIPA, SBC tiap tahunan (untuk SIPA dan SBC) Lantas, bagaimana dengan infrastruktur dan pembinaan budaya/sastra secara rutin atau hariannya, apakah hanya sekedar digelar sebagai ritual tahunan yang akbar saja? Apakah Solo punya Taman Budaya Solo? Ah…itu dulu, kini yang ada adalah Taman Budaya Jawa Tengah yang pembinaan dan peruntukan dananya untuk mengayomi seluruh pegiat budaya dan sastra seluruh Jawa Tengah. Yang ada kini hanya Gedung Kesenian Solo yang diinisiasi oleh beberapa anak muda secara swakelola yang menempati tempat mangkrak di Solo, yakni di eks gedung Solo Theater di komplek sriwedari. Itu pun isunya gedungnya bakal dirobohkan atau digusur.
Kalau di Jawa Barat kita kenal ada saung Mang Ujo yang gelaran hariannya bisa kita tonton dan bisa menjadi objek wisata yang jelas oleh para wisatawan karena terdapat jadwal pentas dan pembinaan harian terlaksana. Lantas Solo punya apa? Mungkin kita akan berkata, Solo punya ketoprak Sriwedari, itupun hidup tak mau, matipun segan, yang hanya ditonton segelintir orang, cukup mengenaskan bukan? Bagi kota Solo yang mengaku sebagai kota budaya. Apakah Wisatawan hanya kita suguhi dengan budaya ritual tahunan saja, layaknya SIPA dan SBC? Apakah Solo tidak punya gelaran budaya harian yang layak untuk diapresiasi. Lantas, apa solusinnya? Data semua komunitas sastra/seni yang ada di Solo, petakan potensi mereka. Setelah itu, fasilitasi mereka tempat yang layak untuk melakukan aktifitas. Nah, kemudian buat jadwal agenda mereka. Promokan kegiatan mereka, kalau perlu jadikan mereka satu paket wisata yang selama ini sudah dan sedang akan berjalan. Misalnya, para wisatawan yang menikmati “Bus Tumpuk”, ada sesi untuk menyaksikan kegiatan atau seni keroncong yang dikelola oleh komunitas, atau seni tari yang dilakukan oleh komunitas tari atau musik yang ada di kota Solo. Kalau di Jawa Barat punya Saung Mang Ujo, Solo seharusnya melakukan itu, angkat salah satu atau lebih sanggar yang ada di Solo, kemudian bantu untuk membuat branding layaknya Saung Mang Ujo. Maka, komunitas seni yang ada di Solo akan mendapat pasokan darah segar untuk menghidupi komunitas mereka sendiri, tanpa harus menengadahkan tangan ke pemerintah. Karena semua bakal diuntungkan secara finansial. Jadi, pemkot tidak akan terkuras energinya untuk menjadi penyelanggara, cukup menjadi fasilitator buat para komunitas. Bahkan, secara tidak langsung telah memberi jalan kepada komunitas itu sendiri untuk menafkahi komunitasnya secara mandiri tanpa ada suntikan dana dari pemkot. Meskipun, sesekali pemkot tetap perlu memberikan suntikan dana kepada komunitas. Nah, kalau pemkot Surakarta berhasil menggandeng komunitas seni yang ada di Solo, walhasil Solo akan punya suguhan seni yang terjadwal.
Ini seharusnya yang menjadi salah satu perhatian bagi Jokowi, pembangunan budaya/sastra harus menjadi ujung tombak, jika Jokowi konsiten dengan tagline di atas, karena perpaduan budaya dengan pembangunan moderan itulah yang sesunguhnya menjadi jembatan masa lalu dan masa depan.
Mungkin paradigma fisik dan materi yang menjadi tolak ukur keberhasilan oleh Jokowi, sehingga pembangunan budaya tidak terperhatikan dan tak tersentuh dengan baik. Kita bisa melihat perlakuan Jokowi terhadap budaya berwujud benda, pembuatan Night Market Pasar Ngarsopuro yang diperuntukan untuk mewadahi penjualan budaya berwujud benda yang menelan dana cukup besar. Mengikutsertakan pengrajin handicraft, misalnya batik, kaligrafi, wayang kulit dan sebagainya untuk ikut pameran baik di tingkat lokal maupun nasional. Lantas, bagaimana dengan penyediaan fasilitas budaya non benda? Apakah ada semacam tempat gelaran rutin seperti Night Market Ngarsopuro? Tidak ada bukan! Itulah yang terjadi sekrang di kota budaya ini.
Bagaimana dengan kehidupan bersastra di Solo? Kalau ditanya tentang seputar kehidupan literasi di Solo, sungguh sangat miris. Berapa jumlah komunitas sastra yang bisa hidup di Solo dan bertahan. Mereka harus berebut jatah dana dengan kota lain, untuk bisa terus bernafas di bawah naungan TBJT. Itu pun, untuk penerbitan kumpulan cerpenya yang diperuntukan untuk komunitas sastra berbagai kota, konon bakal dihentikan untuk pendanaannya atau bahkan sudah dihentikan. Bukan berarti komunitas sastra dan budaya itu harus mengemis pada pemerintah terus menerus, tetapi harus ada sentuhan tangan pemerintah agar mereka bisa terus bernafas agar bisa hidup mandiri dan menjadi icon kota Solo.
Jokowi mungkin lupa atau amnesia dengan masalah literasi, bagaimana novel Laskar Pelangi yang menaikan kota Bangka Belitung menjadi 300 persen jumlah wisatawan yang berkunjung ke pulau Laskar Pelangi tersebut. Bagaimana pujangga Ronggowarsito yang termahsyur dari Soo itu membuat nama Solo begitu harum dan melegenda. Ya, lewat tulisan sebenarnya bisa menaikan popularitas sebuah kota (meskipun bukan itu tujuan utama novel diciptakan). Esensi sebuah karya sastra adalah memanusiakan manusia, mengangkat peradaban suatu masyarakat, karena bangsa yang diakui telah punya peradaban adalah bangsa yang sudah mengenal tulisan.
Jokowi kini harus merubah paradigma pembangunan yang simbolis semata, ia harus mulai memikirkan pembangunan mental dan budaya wong Solo. Sudah saatnya mangambil ancang-ancang untuk membuat kota Solo mandiri tanpa Jokowi. Ya, Solo Tanpa Jokowi harus mulai terperhatikan. Apalagi kini Jokowi tengah disibukan oleh pencalonan dirinya sebagai calon Gubernur DKI. Praktis kepemimpinan di tanah bengawan dipegang oleh AD 2. Tentu ini akan berdampak terhadap kota Solo. Waktu, tenaga dan kosentrasi Jokowi kini beralih untuk merebut DKI 1, tanpa terlebih dahulu mempersiapkan Solo untuk mandiri, tanpa keberadaan sosok Jokowi. Apalagi jika Jokowi bisa naik ke kursi DKI 1, walhasil Solo bakal terkaget-kaget tanpa keberadaannya.
Solo Tanpa Jokowi
Bukan berarti kalimat Solo Tanpa Jokowi adalah sebuah tulisan nyinyir atau negative, tetapi sebuah kalimat untuk berpikir nasib kota Solo tanpa Jokowi, semua harus bersiap diri tanpa keberadaannya, meskipun kita tahu ada beberapa proyek simbolis yang dilakukan Jokowi gagal. Contoh, pembangunan City Walk yang beralih fungsi dari tujuan awal peruntukannya, kini City Walk lebih banyak digunakan untuk parkir mobil, dibandingkan untuk para pejalan kaki. Ironis bukan? Belum lagi proyek Gapuro Makutho yang kini mangkrak, tanpa ada kejalasan. Kemudian Taman Sekartaji yang menelan biaya milyaran rupiah hanya sekedar digunakan sepasang anak muda untuk mojok ketika malam minggu. Kasus Taman Satwa Taru Jurug pun tak genah juntrungnya. Banyak PR sebenarnya yang belum diselesaikan oleh Jokowi terhadap kota Solo.
Sosok Jokowi yang terus-menerus mendapatkan perhatian dari media tentu akan menaikan popularitas dirinya. Tetapi apakah berimbas dengan kota Solo. Mungkin ada yang berpendapat, ya, Solo kecipratan popularitasnya Jokowi. Namun, apakah itu saja yang diharapkan? Tentu kita berharap bahwa citra kota Solo lah yang mencuat tinggi tanpa mengesampingkan sosok Jokowi dalam menata kota Solo. Sehingga jika Solo tanpa Jokowi, pamor solo masih bersinar dan tidak meredup.
Sisa waktu yang dimiliki oleh Jokowi ini harus digunakan sebaik mungkin, Jokowi harus merubah paradigma berpikir. Pembangunan itu tak hanya bertumpu pada fisik semata, namun juga non fisik. Jokowi harus mau menjadi katalisator pencitraan kota Solo. Agar Solo bisa terus bersinar setelah ia tak lagi menjabat sebagai walikota Solo, karena Solo harus mandiri, Solo tanpa Jokowi!
Aries Adenata
Owner SAOS “Kaos Rasa Solo”
http://www.saos-solo.blogspot.com/
Jokowi dan Kota Solo
Jika Jokowi terus konsisten, maka namanya makin bersinar terang benderang. Nah, yang jadi pertanyaan, apakah berbanding lurus antara ketenaran sosok Jokowi dengan ketanaran Kota Solo? Tentu ini menjadi pertanyaan yang pantas dilontarkan.
Jika sosok Jokowi dipersonifikasikan sebagai kota Solo. Maka kota Solo bakal cilaka besar, karena Jokowi tidak bakal bisa menjabat sebagai walikota Surakarta untuk yang ketiga kalinya. Yang cukup pelik adalah, sosok pengganti Jokowi untuk menjadi walikota penerus beliau, tentu orang akan membandingkan kebijakan dan upaya yang dilakukannya dengan walikota sebelumnya, yakni Jokowi. Jika terjadi demikian, kota Solo dipertaruhkan kembali, apakah populer seperti ketika dipimpin Jokowi atau malah terjun bebas entah kemana rimbanya.
Tentu publik akan mengingat, semasa Jokowi menjabat, banyak gelaran budaya kelas dunia digelar, diantaranya SIEM (solo international etnik music), SIPA (solo international performing art), SBC (solo batik carnival) dan yang lainnya. Tak hanya itu, acara-acara nasional juga banyak berdatangan ke Solo. Mulai dari konggres luar biasa PSSI, pertemuan parlemen se-asia juga berada di Solo dan yang lainnya.
Kini, yang terjadi di kota Solo adalah wisata Jokowi. Jika ada gelaran nasional, maka peserta acara menginginkan Jokowi lah yang membukanya, kemudian selesai acara foto-foto bareng dengan Jokowi, yang bakal menjadi souvenir atau buah tangannya adalah foto bareng bersama Jokowi. Bukanya batik Solo atau kerajianan tangan. Tentu ini sah-sah saja, tetapi akan berdampak pada kota Solo. Karena Solo bukanlah Jokowi. Solo besar dan melambung saat ini tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok Jokowi. Namun, tidak lantas mempersonifikasikan Jokowi adalah Solo, Solo adalah Jokowi. Tetapi yang harus dibangun adalah pondasi karakter dan budaya Solonya, itu yang akan membuat nama Solo terus dikenang dan melegenda, bukan pencintraan diri sosok Jokowi yang terus menerus. Seperti halnya kasus mobil ESEMKA ketika diangkat ke publik, tentu hanya berdampak positif pada sosok Jokowi semata, Solo hanya kecipratan momen dan peristiwa saja.
Seharunya budaya Solo atau potensi yang dimiliki Solo lah yang harus di rekayasa atau diangkat publik guna pencitraan kota, agar berdampak pada ekonomi kota Solo. Bukannya citra sosok Jokowi yang tentu akan melejitkan karir pribadi Jokowi sendiri.
Pembangunan Simbolisme
Jokowi pernah melontarkan sebuah tagline “Solo masa depan adalah Solo masa lalu”. Mungkin inilah platform Jokowi dalam membangun Solo. Ia ingin Solo menjadi kota yang maju tetapi dengan tidak meninggalkan budaya masa lalu. Tentu keinginan tersebut pantas kita apresiasi. Namun, ada beberapa hal yang pantas kita cermati.
Dalam rangka mewujudkan platform tersebut Jokowi menggeber dengan membuat simbol pembangunan masa depan Solo dengan cara mengadakan Bus Tingkat, Batik Solo Trans, dan Railbus. Lantas, untuk simbol pembangunan masa lalu, Jokowi mengadakan sepur klutuk jaladara, kereta kencana, dan bangunan-bangunan milik pemerintah (sekolah, kantor kelurahan, dan puskemas) dengan arsitek tempo dulu. Dari pengadaan atau pembangunan tersebut, bisa kita lihat, bahwa Jokowi terjebak pada pembangunan simbol semata tanpa memikirkan esensi pembangunan. Ia lebih memetingkan prasasti pembangunan dalam bentuk fisik. Ia juga gemar membangun rekam jejak keberhasilannya dengan monumen hotel yang bertebaran di penjuru kota Solo, meski ia berdalih membatasi pendirian mall.
Inilah paradigma yang sering digunakan oleh para pemimpin bangsa ini, bahwa pembangunan itu adalah pembangunan fisik, mereka berorientasi bahwa pembangunan itu harus berwujud pada benda atau materi. Mungkin mereka menganggap bahwa itu yang terlihat oleh kasat mata, agar bisa mendapatkan penilaian dari publik, atau bisa menjadi prasasti peninggalan ketika sudah tidak menjabat lagi. Lantas, jika pembangunan hanya diwujudkan dalam bentuk benda atau materi an sich? Bagaimana dengan manusianya? Apakah masyarakat Solo tidak butuh pembangunan mental dan spiritual. Dalam hal ini, Jokowi telendor atau bahkan tidak melirik untuk melakukan pembangunan dalam bidang mental dan spiritual untuk masyarakat Solo. Lihat saja, berapa hotel-hotel tinggi yang menjulang ke langit berdiri di Solo. Tanpa menyiapkan karakter budaya peyangganya, misalnya tukang becak yang menyapa ramah dengan senyum dan perilaku khas orang Solo ketika hendak bertanya atau mau mengantar ke hotel. Bukannya abang tukang becak yang ongkang-ongkang diatas becaknya, dengan kaki jegang, sambil menghisap rokok, tanpa mau turun atau senyum ketika ditanya oleh calon pengguna becak untuk keliling kota Solo. Karakter budaya orang Solo lah yang sebenarnya harus dipertahankan dan dibangun, karena itulah yang menjadi nilai jual. Kita ingat dengan streotip bahwa orang Solo itu halus dan ramah. Tetapi, apa yang terjadi sekarang?
Lihat dengan gelaran event budaya, begitu megah dan gegap gempitanya Solo menyelenggarakan SIEM, SIPA, SBC tiap tahunan (untuk SIPA dan SBC) Lantas, bagaimana dengan infrastruktur dan pembinaan budaya/sastra secara rutin atau hariannya, apakah hanya sekedar digelar sebagai ritual tahunan yang akbar saja? Apakah Solo punya Taman Budaya Solo? Ah…itu dulu, kini yang ada adalah Taman Budaya Jawa Tengah yang pembinaan dan peruntukan dananya untuk mengayomi seluruh pegiat budaya dan sastra seluruh Jawa Tengah. Yang ada kini hanya Gedung Kesenian Solo yang diinisiasi oleh beberapa anak muda secara swakelola yang menempati tempat mangkrak di Solo, yakni di eks gedung Solo Theater di komplek sriwedari. Itu pun isunya gedungnya bakal dirobohkan atau digusur.
Kalau di Jawa Barat kita kenal ada saung Mang Ujo yang gelaran hariannya bisa kita tonton dan bisa menjadi objek wisata yang jelas oleh para wisatawan karena terdapat jadwal pentas dan pembinaan harian terlaksana. Lantas Solo punya apa? Mungkin kita akan berkata, Solo punya ketoprak Sriwedari, itupun hidup tak mau, matipun segan, yang hanya ditonton segelintir orang, cukup mengenaskan bukan? Bagi kota Solo yang mengaku sebagai kota budaya. Apakah Wisatawan hanya kita suguhi dengan budaya ritual tahunan saja, layaknya SIPA dan SBC? Apakah Solo tidak punya gelaran budaya harian yang layak untuk diapresiasi. Lantas, apa solusinnya? Data semua komunitas sastra/seni yang ada di Solo, petakan potensi mereka. Setelah itu, fasilitasi mereka tempat yang layak untuk melakukan aktifitas. Nah, kemudian buat jadwal agenda mereka. Promokan kegiatan mereka, kalau perlu jadikan mereka satu paket wisata yang selama ini sudah dan sedang akan berjalan. Misalnya, para wisatawan yang menikmati “Bus Tumpuk”, ada sesi untuk menyaksikan kegiatan atau seni keroncong yang dikelola oleh komunitas, atau seni tari yang dilakukan oleh komunitas tari atau musik yang ada di kota Solo. Kalau di Jawa Barat punya Saung Mang Ujo, Solo seharusnya melakukan itu, angkat salah satu atau lebih sanggar yang ada di Solo, kemudian bantu untuk membuat branding layaknya Saung Mang Ujo. Maka, komunitas seni yang ada di Solo akan mendapat pasokan darah segar untuk menghidupi komunitas mereka sendiri, tanpa harus menengadahkan tangan ke pemerintah. Karena semua bakal diuntungkan secara finansial. Jadi, pemkot tidak akan terkuras energinya untuk menjadi penyelanggara, cukup menjadi fasilitator buat para komunitas. Bahkan, secara tidak langsung telah memberi jalan kepada komunitas itu sendiri untuk menafkahi komunitasnya secara mandiri tanpa ada suntikan dana dari pemkot. Meskipun, sesekali pemkot tetap perlu memberikan suntikan dana kepada komunitas. Nah, kalau pemkot Surakarta berhasil menggandeng komunitas seni yang ada di Solo, walhasil Solo akan punya suguhan seni yang terjadwal.
Ini seharusnya yang menjadi salah satu perhatian bagi Jokowi, pembangunan budaya/sastra harus menjadi ujung tombak, jika Jokowi konsiten dengan tagline di atas, karena perpaduan budaya dengan pembangunan moderan itulah yang sesunguhnya menjadi jembatan masa lalu dan masa depan.
Mungkin paradigma fisik dan materi yang menjadi tolak ukur keberhasilan oleh Jokowi, sehingga pembangunan budaya tidak terperhatikan dan tak tersentuh dengan baik. Kita bisa melihat perlakuan Jokowi terhadap budaya berwujud benda, pembuatan Night Market Pasar Ngarsopuro yang diperuntukan untuk mewadahi penjualan budaya berwujud benda yang menelan dana cukup besar. Mengikutsertakan pengrajin handicraft, misalnya batik, kaligrafi, wayang kulit dan sebagainya untuk ikut pameran baik di tingkat lokal maupun nasional. Lantas, bagaimana dengan penyediaan fasilitas budaya non benda? Apakah ada semacam tempat gelaran rutin seperti Night Market Ngarsopuro? Tidak ada bukan! Itulah yang terjadi sekrang di kota budaya ini.
Bagaimana dengan kehidupan bersastra di Solo? Kalau ditanya tentang seputar kehidupan literasi di Solo, sungguh sangat miris. Berapa jumlah komunitas sastra yang bisa hidup di Solo dan bertahan. Mereka harus berebut jatah dana dengan kota lain, untuk bisa terus bernafas di bawah naungan TBJT. Itu pun, untuk penerbitan kumpulan cerpenya yang diperuntukan untuk komunitas sastra berbagai kota, konon bakal dihentikan untuk pendanaannya atau bahkan sudah dihentikan. Bukan berarti komunitas sastra dan budaya itu harus mengemis pada pemerintah terus menerus, tetapi harus ada sentuhan tangan pemerintah agar mereka bisa terus bernafas agar bisa hidup mandiri dan menjadi icon kota Solo.
Jokowi mungkin lupa atau amnesia dengan masalah literasi, bagaimana novel Laskar Pelangi yang menaikan kota Bangka Belitung menjadi 300 persen jumlah wisatawan yang berkunjung ke pulau Laskar Pelangi tersebut. Bagaimana pujangga Ronggowarsito yang termahsyur dari Soo itu membuat nama Solo begitu harum dan melegenda. Ya, lewat tulisan sebenarnya bisa menaikan popularitas sebuah kota (meskipun bukan itu tujuan utama novel diciptakan). Esensi sebuah karya sastra adalah memanusiakan manusia, mengangkat peradaban suatu masyarakat, karena bangsa yang diakui telah punya peradaban adalah bangsa yang sudah mengenal tulisan.
Jokowi kini harus merubah paradigma pembangunan yang simbolis semata, ia harus mulai memikirkan pembangunan mental dan budaya wong Solo. Sudah saatnya mangambil ancang-ancang untuk membuat kota Solo mandiri tanpa Jokowi. Ya, Solo Tanpa Jokowi harus mulai terperhatikan. Apalagi kini Jokowi tengah disibukan oleh pencalonan dirinya sebagai calon Gubernur DKI. Praktis kepemimpinan di tanah bengawan dipegang oleh AD 2. Tentu ini akan berdampak terhadap kota Solo. Waktu, tenaga dan kosentrasi Jokowi kini beralih untuk merebut DKI 1, tanpa terlebih dahulu mempersiapkan Solo untuk mandiri, tanpa keberadaan sosok Jokowi. Apalagi jika Jokowi bisa naik ke kursi DKI 1, walhasil Solo bakal terkaget-kaget tanpa keberadaannya.
Solo Tanpa Jokowi
Bukan berarti kalimat Solo Tanpa Jokowi adalah sebuah tulisan nyinyir atau negative, tetapi sebuah kalimat untuk berpikir nasib kota Solo tanpa Jokowi, semua harus bersiap diri tanpa keberadaannya, meskipun kita tahu ada beberapa proyek simbolis yang dilakukan Jokowi gagal. Contoh, pembangunan City Walk yang beralih fungsi dari tujuan awal peruntukannya, kini City Walk lebih banyak digunakan untuk parkir mobil, dibandingkan untuk para pejalan kaki. Ironis bukan? Belum lagi proyek Gapuro Makutho yang kini mangkrak, tanpa ada kejalasan. Kemudian Taman Sekartaji yang menelan biaya milyaran rupiah hanya sekedar digunakan sepasang anak muda untuk mojok ketika malam minggu. Kasus Taman Satwa Taru Jurug pun tak genah juntrungnya. Banyak PR sebenarnya yang belum diselesaikan oleh Jokowi terhadap kota Solo.
Sosok Jokowi yang terus-menerus mendapatkan perhatian dari media tentu akan menaikan popularitas dirinya. Tetapi apakah berimbas dengan kota Solo. Mungkin ada yang berpendapat, ya, Solo kecipratan popularitasnya Jokowi. Namun, apakah itu saja yang diharapkan? Tentu kita berharap bahwa citra kota Solo lah yang mencuat tinggi tanpa mengesampingkan sosok Jokowi dalam menata kota Solo. Sehingga jika Solo tanpa Jokowi, pamor solo masih bersinar dan tidak meredup.
Sisa waktu yang dimiliki oleh Jokowi ini harus digunakan sebaik mungkin, Jokowi harus merubah paradigma berpikir. Pembangunan itu tak hanya bertumpu pada fisik semata, namun juga non fisik. Jokowi harus mau menjadi katalisator pencitraan kota Solo. Agar Solo bisa terus bersinar setelah ia tak lagi menjabat sebagai walikota Solo, karena Solo harus mandiri, Solo tanpa Jokowi!
Aries Adenata
Owner SAOS “Kaos Rasa Solo”
http://www.saos-solo.blogspot.com/
Selasa, 22 Maret 2011
Book Review 01: Dua Kelamin bagi Midin

Bagi saya, membaca adalah sebuah kenikmatan sendiri. Layaknya mengunyah, mencecap sebuah makanan lezat, setiap kali melakukannya, saya akan melakukannya dengan pelan sambil menikmati setiap kunyahannya. Saya takut kenikmatan itu lekas sirna jika saya cepat-cepat menelannya. Seperti yang kulakukan terhadap buku Kumpulan Cerpen Kompas 1970-1980; Dua Kelamin Bagi Midin. Buku dengan ketebalan 400 halaman ini begitu saya nikmati. Saya enggan untuk meneguk kenikmatannya dalam sekali duduk.
Buku itu saya beli satu tahun yang lalu, namun saya baru mengatamkan hari senin kemarin 21 Maret 2011. Ada kenikmatan yang meledak dalam tubuh saya, entah di bagian mana.
Di penghujung buku tersebut, saya dibuat kaget luar biasa, saya mengenal Hamsad Rangkuti adalah penulis realis dan sederhana, namun menohok kemanusiaan kita. Tapi apa? Kali ini, lewat tulisan yang berjudul Dua Orang Bercakap-cakap, Hamsad menulis dengan gaya yang tetap sederhana, namun butuh sebuah nalar kritis, ia hanya menulis narasi pada paragraph pertama saja, selanjutnya sampai akhir cerita, isinya semuanya dialog. Inilah salah satu dialognya…
“ Telek asu! Tahu kau telek asu. Kalau itu maksud dia mengapa dia tidak gantungkan bangkai tikus. Bangkai tikus lebih busuk. Petani pasti senang melihat itu. Artinya seniman menggantung tikus, menggantung musuh petani. Yang jelas sebenarnya seniman-seniman itu mau mengejek rakyat. Mereka gantung dua kilo daging di dinding pameran, sementara rakyat makan tempe….”
Apa maksud Hamsad Rangkuti menulis dialog ini? Bisa jadi ia ingin mengkritik seniman yang sok seniman. Rambut gondrong acak-acakan biar dibilang seniman, membuat karya yang makin mengerutkan dahi biar dibilang seniman. Itulah gaya orang yang mau disebut seniman. Mau dibilang seniman? Pasang saja kutang di depan pintu rumahmu. Ketika ditanya, itulah seni kritis, para pejabat harus punya kacamata sebesar kutang, biar tahu penderitaan rakyat.
Lain lagi, Rahini Ridwan, dengan judul tulisan Kebohongan yang Terakhir. Ia mencoba membolak-balikan logika kita.
“Bukankah berbohong itu juga suatu suatu pekerjaan yang tidak gampang? Pekerjaan yang tidak dengan mudah dapat dilakukan oleh setiap orang? Bukankanh kebohongan juga membutuhkan bakat dan keberanian-fisik maupun mental? Bukankah berbohong juga adalah suatu pekerjaan yang penuh dengan resiko seperti halnya kerja yang lain? Bukankah orang yang berhasil dalam hidup adalah orang yang berani dan gigih terhadap resiko-resiko? Kalau betul demikian, apa pula perbedaannya aku dengan mereka yang lain?”
Lantas, apa itu kejujuran dan apa itu kebohongan? Sama-sama membutuhkan keberanian bukan? Namun, yang membedakannya adalah reward and punishment yang akan kita petik di dunia dan akhirat.
Sedangkan karya yang absurd, saya mendapatkan dalam buku tersebut dengan judul tulisan Subali Kawin karya Noorca Marendra Massardi. Benar-benar kali ini saya harus mengernyitkan dahi, apa maksud Noorca dengan tulisannya, ditambah gaya penulisannya yang sangat eksploratif. Ia menulis percakapan antara Subali dan istrinya, Sunarti, dengan mencampurkan peristiwa yang sedang atau telah terjadi di belahan dunia ini.
“-Sedang di Perancis barat kemungkinan akan turun salju. Bahkan di selatan akan mencapai satu derajat,-kata peramal cuaca. Subali mencium mulut istrinya. Hangatnya ibarat pemanas ruangan duapuluhtiga derajat. Dan, Sunarti balas ciuman suaminya. Padahal, sudah bertahun-tahun mereka hidup bersama. Maklumlah kalau semua Negara mengutuk Moskwa perang dingin akan terulang lagi.
-Kamu betul-betul merasa bahagia malam mini, Nar?”
-Aku sangat bahagia Mas Bal. Aku sangat bahagia-, sahut Sunarti. Diciumnya pipi Subali dengan Mesra. Brezhnev-pun lantas membalas pelukan Georges Marchais dengan hangat. Sebab Marchais-lah satu-satunya pentolan partai komunis Italia yang sungkem kepada Brezhnev beberapa hari setelah penyerbuan Rusia ke Afganistan. Padahal, partai komunis Italia dan Spanyol kedua ikut mengutuk agresi Soviet tersebut.”
Bagi saya cerpen ini sangat ekploratif dalam segi bentuk dan gaya. Ia meramu adegan perjumpaan suami istri layaknya sebuah adegan perang antar Negara, ideologi dan kepentingan.
Sebuah tulisan yang bagi saya adalah kecerdasaan menulis yang menghindari kevulgaraan, namun mampu memberi sketsa pilihan terhadap gaya untuk menampilkan bagaimana sebuah adegan bisa terhindari dan masuk kepada metafora indah, namun melipat-lipat dahi. Bahkan menyentil seseorang.
Ah, begitu banyak dan beragamnya kenikmatan yang ada dalam buku tersebut, dalam setiap judul ada sesuatu yang membuat ujung lidah kita terkejut akan sensasi kenikmatan yang ditimbulkannya. Terlalu panjang jika saya harus mendedah semua judul tulisan dalam buku tersebut, sehingga aromanya akan tercium di seluruh dunia.
Kawan, jika kau ingin menikmatinya, baca dan kunyahlah sendiri buku tersebut dengan khidmat. Mau?
Aries Adenata, S.S
Pendiri dan Pegiat Adenata Institute
NB: Bagi penerbit yang mau bukunya kami review, silahkan kirim buku sebanyak 2 eksemplar (Buku yang masuk akan kami donasikan untuk pendirian/penambahan koleksi Perpustakaan Adenata Institute). Tulisan akan kami sebarluaskan di facebook dan blog Adenata Institute.
Bagi penerbit atau perseorangan yang ingin menyumbang buku/perlengkapan perpustakaan, kami juga mempersilahkan dan membuka pintu dengan lebar. Perpustakaan Adenata Intitute ini akan dikelola bareng bersama FLP Solo Raya . Rencananya, perpustakan Adenata Institute akan menempati ruang di Solo Corner (depan RS Ortopedi Solo/Timur kampus UNS Pabelan) dan akan dibuka untuk umum.
Alamat Pengiriman Buku:
Adenata Institute
a.n Aries Adenata
Gumpang Rt 01/03, Kartasura
Sukoharjo , Jawa Tengah.
HP: 0852 9355 9082
Selasa, 08 Maret 2011
Nulis Dapat SAOS “Kaos Rasa Solo”, Mau?

Syarat:
1. Membuat tulisan dengan memilih salah satu tema berikut:
A. SAOS, sebuah icon romantisme Solo
B. SAOS, Joger, dan Dagadu. Sebuah cerita tentang kota.
2. Karya Sendiri
3. Jumlah karakter/font/halaman tidak ditentukan
Ketentuan:
1. Tulisan dipasang di blog dan di note/catatan FB peserta
2. Memasang link blog SAOS: www.saos-solo.blogspot.com pada blog peserta
3. Judul, data peserta dan alamat blog dikirim ke inbox FB: Saos Solo
4. Tiga peserta terpilih akan mendapatkan kaos SAOS”Kaos Rasa Solo”, sesuai keinginan peserta terpilih (design yang sudah tersedia di SAOS)
5. Peserta terpilih akan diumumkan pada tanggal 1 Juni 2011
NB: Peserta bisa melihat blog reference untuk melihat dan menulis tentang SAOS “Kaos Rasa Solo” di www.saos-solo.blogspot
Rabu, 01 Desember 2010
Bengawan Solo (sejarah yang tersembunyi)

SAOS "Kaos Rasa Solo"
www.saos-solo.blogspot.com
Dahulu kala Sungai Bengawan Solo mengalir tenang dari hulunya di wilayah utara hingga bermuara di Pantai Sadeng yang kini berada di Kabupaten Gunung Kidul. Namun, empat juta tahun yang silam, sebuah proses geologi terjadi. Lempeng Australia menghujam ke bawah Pulau Jawa, menyebabkan dataran Pulau Jawa perlahan terangkat. Arus sungai akhirnya tak bisa melawan hingga akhirnya aliran pun berbalik ke utara. Jalur semula akhirnya tinggal jejak yang perlahan mengering karena tak ada lagi air yang mengalirinya. Wilayah ini menjadi kaya akan bukit-bukit kapur yang menurut beberapa penelitian, semula merupakan karang-karang yang berada di bawah permukaan laut.
Kini, bekas aliran sungai yang populer lewat lagu keroncong berjudul Bengawan Solo ciptaan Gesang itu menjadi objek wisata menarik. Tak ketinggalan Pantai Sadeng yang menjadi muaranya, selain menjadi objek wisata juga menjadi salah satu pelabuhan perikanan besar di Yogyakarta. Keduanya menjadi jejak geologi yang berharga. Beberapa waktu lalu, sempat diadakan paket wisata menyusuri jalur Bengawan Solo Purba hingga muaranya.
Dalam perjalanan menuju Pantai Sadeng, beberapa ratus meter jalur aliran Bengawan Solo Purba bisa dinikmati pemandangannya. Jalur aliran itu bisa dilihat setelah sampai di dekat plang biru bertuliskan "Girisubo - Ibukota Kecamatan". Berhenti sejenak di pinggir jalan menuju pantai atau berjalan perlahan adalah cara paling tepat untuk menikmati pemandangan bekas aliran ini, sekaligus memberi kesempatan mengabadikannya dengan kamera.
Tampak dua buah perbukitan kapur yang tinggi memanjang mengapit sebuah dataran rendah yang semula adalah jalur aliran. Dataran rendah yang kini menjadi lahan berladang palawija penduduk setempat itu berkelok indah, memanjang sejauh 7 kilometer ke arah utara, hingga wilayah Pracimantoro di Kabupaten Wonogiri. Kelokannya membuat mata tergoda untuk menyusurinya ke utara hingga ke tempat pembalikan aliran sungainya.
Jalur aliran juga bisa disusuri ke arah selatan hingga bekas muaranya di Pantai Sadeng. Menurut penuturan salah seorang nelayan, muara Bengawan Solo Purba berada di pantai sebelah timur, wilayah yang kini termasuk areal pelabuhan perikanan. Meski demikian, penyusuran ke selatan tak akan seindah ke utara, sebab jalan yang menuju ke Pantai Sadeng tidak searah dengan jalur aliran sungai terbesar di Jawa itu.
Bila telah sampai ke pantainya, maka pemandangan berbeda akan dijumpai. Wilayah pantai juga telah mengalami perubahan, seperti jalur aliran yang kini menjadi ladang-ladang penduduk. Pantai Sadeng kini menjadi pelabuhan perikanan di Yogyakarta yang paling maju, terbukti dengan kelengkapan sarana pendukungnya, seperti perahu motor yang berukuran lebih besar, terminal pengisian bahan bakar, rumah pondokan nelayan hingga tempat pelelangan ikan dan koperasi.
Proses Berbalik Arah Bengawan Solo Purba
Sebelumnya arah aliran sungai Bengawan Wonogiri Solo ini mengalir ke arah selatan. Sungai ini bermuara di Samodra Hindia Indonesia. Proses tentonik tentunya sejak dulu juga ada. Lempeng Ustrali di sebelah kanan (selatan) ini menabrak dan menghunjam ke bawah Pulau Jawa.
Karena adanya kerak Ustrali menghunjam kebawah tentunya bagian pinggir (bag selatan) Pulau Jawa ini akan terangkat terus menerus kan ? Sehingga lama kelamaan aliran air permukaan yg melalui sungai akan terganggu.
Sampai akhirnya ketika pengangkatannya sudah cukup tinggi, maka airpun tidk dapat mengalir ke arah selatan, dan “berbalik” ke utara. Saat ini kita hanya dapat mengamati adanya endapan-endapan sungai Bengawan Wonogiri Solo purba.
Pengangkatan ini masih terus beralngsung hingga saat ini. Pengangkatan ini terjadi bersamaan pula dengan proses terjadinya gempa.Karena proses pengangkatan ini perlahan, dan seperti kita tahu bahwa gelombang pantai selatan ini sangat besar maka dinding-dinding pantai selatan Jawa ini sangat curam. Hanya dibeberapa tempat saja yang menunjukkan topografi (kelerengan rupabumi) landai seperti di pantai selatan Jogja. Ketika bagian selatan Pulau Jawa ini sedikit terangkat, tentusaja gelombang laut juga akan menghantamnya. Dan akhirnya bentuk pantai selatan ini berupa dinding yg curam. (sumber: bengawansolo.net)
Sabtu, 16 Oktober 2010
Oleh-oleh Solo

Setelah memproklamirkan diri SAOS, para kisanak pasti bertanya, kemana SAOS, kok ndak kelihatan. Ngumpet, ya?
Eit, bukan ngumpet. Tapi kami terus-menerus olah kanuragan. Setelah proklamasi, kami disibukan dengan persiapan banyak hal terkait berdirinya SAOS. Kami ingin benar-benar menyuguhkan hidangan visual Solo dalam bentuk kaos.
Nah, SAOS sudah tahap pra final, design sudah ready (tapi belum kami publish, takut dibajak duluan). Dalam waktu dekat, kami akan segera produksi. Selanjutnya, kami akan segera membuka counter resmi kami.Mohon doanya, untuk tempat kami masih merahasiakan, karena team SAOS masih berdebat sengit untuk menentukan lokasi.
Sabar, ya kisanak!
SAOS “Kaos Rasa Solo”
Bakal jadi oleh-olehnya wong Solo…
www.saos-solo.blogspot.com
(gambar ilustrasi diolah dari wong Solo)
Jumat, 15 Oktober 2010
Upaya mencari tersangka pembuat badai perbukuan

Akhir-akhir ini dunia perbukuan diterjang badai. Ini adalah sebuah badai besar yang kesekian kalinya bagi para pelaku penerbitan. Sebuah PR besar yang harus dijawab, syukur-syukur bisa mencari tersangka pembuat badai industri kreatif buku. Bagaimana tidak, para pelaku industri ini pada mengeluh karena cash in mereka melompat jauh dari tebing nyaris ke dasar jurang, bahkan ada penerbit yang tumbang karena terjangan badai ini.
Namun aneh, ditengah badai ini, acara pelatihan baik kepenulisan offline maupun online merebak bak cendawan di musim dingin, belum lagi acara jumpa penulis dan bedah buku, hampir di tiap sekolah, sudut kota, di pojok kampung dan di tengah masjid digelar sebagai ritual perayaan lahirnya buku dan jumpa fans.
Mencari tersangka
Nah, siapa tersangkanya? Ini menjadi tugas kita bersama, selaku penulis, penerbit dan pemerintah tentunya (sebagai pembuat regulasi). Ada beberapa fenomena yang perlu kita perhatikan;
Pertama, masyarakat kita dihajar habis-habisan oleh pameran buku. Bayangkan, satu kota bisa dalam setahun 6-8 kali pameran. Tentu, masyarakat akan babak belur, kemudian malas melangkahkan kaki ke pameran. Kini, pameran bukan sebuah hal istimewa karena tiap bulan pasti ada sebuah pameran. Seharusnnya pameran buku dijaga ritmenya, biar tidak berlari dan saling bertuburkan. Inilah ulah para EO yang berebut kue dan dengan genitnya menawarkan ke penerbit. Namun, penerbit seperti tak kuasa dengan kegenitan para EO, mereka tergoda kemudian ikut semua pameran yang diadakan. Siapa yang akan menjadi korban? Sang EO atau Penerbit? Semuanya tentu akan mendapatkan imbasnya. Tinggal menanti titik puncak kejenuhan masyarakat. Waspadalah!
Kedua, era digital. Mau tidak mau harus diakui, ini juga harus dijadikan tersangka. Orang kini mulai melirik untuk memiliki ebook dari pada buku karena lebih praktis. Bahkan, saya mendapatkan pengakuan yang jujur dari salah satu penulis, mereka dalam mencari refernce tinggal Tanya mbah google. So? Sang penulis yang mau menjual tulisannya dalam bentuk buku saja kini lebih memanfaatkan internet dari pada cari reference dalam bentuk buku. Masak mau maksa orang beli buku sedangkan dia internet minded?
Belum lagi keunggulan internet, sepatu rusak, kulkas rusak, hingga cara merawat baju saja, tinggal klik, sudah bertebaran di dunia maya, gratis! Kenapa harus repot beli buku ke took buku dan harganya melambung karena kenaikan kertas.
Ketiga, faktor penerbit itu sendiri. Mereka pengekor suatu buku jika buku itu meledak dipasaran, jika ada yang berjudul ayat-ayat cinta misalnya, maka akan lahir ratusan judul yang mirip bahkan covernya nyaris tak bisa dibedakan. Harusnya selektif dengan naskah. Biar suguhan itu bervariatif bagi pembaca. Bayangkan saja, jika menu makan yang ada dihadapan kita sejenis, maka kita tidak akan berselera, tetapi jika menu itu banyak pilihan, tentu kita akan tergoda untuk segera mencicipinya.
Nah, seharunya penerbit punya team research yang handal sebelum membuat buku. Segala hal harus diperhitungkan. Jika ini dilakukan, maka bakal berdampak baik bagi penerbit dan pembaca.
Upaya menghadang badai
Lantas, apakah kita harus diam saja melihat badai ini? Sekitar satu-dua minggu yang lalu, saya ngobrol panjang dengan manajer penerbit Era Intermedia, Pak Adi. Mereka bermain di dua kaki, yang satu adalah menerbitkan buku idelis, sedangkan yang kedua adalah proyek. Jika buku idealis atau umum itu seret di pasar, maka mereka akan mendapatkan darah segar dari buku proyek. Sekarang pemerintah lagi getol menggelontorkan dana buku-buku pengayaan, sekali cetak untuk satu judul bisa 15 hingga 30 ribu. Banyak bukan? Nah, inilah fungsi subsisdi silang, buku idealis tetap harus berjalan, buku proyek juga kita garap.
Masih banyak penerbit yang ngotot hanya bertahan dengan buku umum atau idealisnya. Tak hanya itu, penerbit yang masih menerapkan majemen ortodok harus segera bisa berbenah diri. Lekas bangkit menghadang badai ini. Buat langkah konkrit mulai dari: membuat team atau divisi pemburu buku proyek, kuatakan team kreatif, uasahakan ada divisi research meskipun hanya kecil
Langganan:
Postingan (Atom)
